<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tukang Jalan</title>
	<atom:link href="http://www.tukangjalan.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.tukangjalan.com</link>
	<description>Kalau Bukan Sekarang Kapan lagi !</description>
	<lastBuildDate>Wed, 01 May 2013 10:03:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Jelajah Flores (part 1): Di Sini Keceriaan Dimulai</title>
		<link>http://www.tukangjalan.com/jelajah-flores-part-1-di-sini-keceriaan-dimulai/</link>
		<comments>http://www.tukangjalan.com/jelajah-flores-part-1-di-sini-keceriaan-dimulai/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Apr 2013 06:30:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webadmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Holiday]]></category>
		<category><![CDATA[Review Stories]]></category>
		<category><![CDATA[Schedule Trip]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tukangjalan.com/?p=13874</guid>
		<description><![CDATA[&#160;

Tulisan 1 dari 4 tulisan oleh Maretha
Bersamaan dengan usainya masa tugas sebagai dokter PTT di Alor, maka dimulailah kehidupan baruku. Bukan karena aku telah bertemu dengan si dia yang telah mencuri hatiku, tapi karena aku bakal liburaaan! Dan liburan kali ini akan spesial karena dilakukan ... ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://www.tukangjalan.com/wp-content/uploads/2013/04/lombok.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-13873" title="lombok" src="http://www.tukangjalan.com/wp-content/uploads/2013/04/lombok.jpg" alt="" width="450" height="300" /></a></p>
<p>Tulisan 1 dari 4 tulisan oleh <a href="http://primariayu.wordpress.com/2013/04/02/jelajah-flores-part-1-di-sini-keceriaan-dimulai/">Maretha</a></p>
<p>Bersamaan dengan usainya masa tugas sebagai dokter PTT di Alor, maka dimulailah kehidupan baruku. Bukan karena aku telah bertemu dengan si dia yang telah mencuri hatiku, tapi karena aku bakal liburaaan! Dan liburan kali ini akan spesial karena dilakukan dalam waktu 8 hari mengingat destinasi yang lumayan banyak dan pertama kalinya liburan lama bareng banyak temen. Yes, Retha bakal menjelajahi Pulau Flores di NTT. Sebuah pulau yang terkenal dengan wisata Danau Kelimutu serta Pulau Komodo. Aku harap kalian ngerasa excited mau baca tulisan ini sama seperti excitednya aku waktu nyiapin tas isi sandang selama perjalanan jelajah Flores. Yeiy!</p>
<p>Sebelum mulai ceritanya, trip ini ikutan jalan-jalannya si Om @Tukang_Jalan. Murah dan sangat terprogram. Aku suka ^^</p>
<p><strong>Hari pertama, 23 Maret 2013</strong></p>
<p>Pada pukul 09.00 WITA, telah berkumpul lima dari enam anggota jelajah Flores di depan konter Merpati buat check in. Satu yang belum datang karena masih ada di ketinggian sekian ribu kaki karena terbang dari Alor menuju Kupang. Perkenalkan, ada @aninouz, @aprilianayu, @dzadvena, @risangpermana, dan Ridwan. Mereka adalah partnerku selama delapan hari ke depan yang bakal bareng-bareng ketawa dan saling ngebantu waktu susah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pukul 09.20 WITA, pesawat Merpati dari Alor telah mendarat. Artinya @dzadvena telah sampai Kupang dan pesawat yang akan membawa kami berenam ke Maumere telah parkir nyata di depan mata. Sembari menunggu saatnya boarding, masing-masing orang melakukan aktivitasnya. Ada yang pacaran, ada yang sibuk ngambil duit di ATM buat bekal jelajah nanti, ada yang heboh sendiri karena baru balik dari hotel buat nyari KTP yang dikira ketinggalan padahal ada di saku tasnya (krik). Dan pukul 09.40 terdengar panggilan pada seluruh penumpang Merpati tujuan Maumere. Kuangkat tas ranselku dengan semangat dan di sinilah keceriaanku dimulai. Flores, I’m coming!</p>
<p>Sekitar jam 10.45 WITA, kami tiba di Maumere yang konon katanya adalah ibu kota kabupaten yang paling bergengsi di Flores. Bahkan punya Gramedia. Padahal di Alor aja gak ada toko buku bacaan dan gak ada KFC, kalah ama Sangatta. Hehehe. Dan kemewahan Maumere, ibu kota kabupaten Sikka terbukti. Bandaranya besar meskipun tak sebesar Kupang. Tapi untuk ukuran NTT, bandara ini mewah. Dilengkapi ruang tunggu bagasi yang nyaman membuat bandara Mali di Alor tak ada apa-apanya. Selesai mengangkat barang bawaan masing-masing, kami keluar dari ruang tunggu bagasi dan bertemu dengan Kak Martin, guide sekaligus sopir kami selama perjalanan jelajah Flores ini. Dan aku dikejutkan ketika kami menuju mobil yang akan kami tumpangi. Mobilnya Innova dengan plat N. Duh, bikin inget Malang deh ^^</p>
<div id="attachment_1722"><a href="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/imag0111.jpg"><img title="Bandara Frans Seda Maumere yang bagus" src="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/imag0111.jpg?w=300&amp;h=168" alt="Bandara Frans Seda Maumere yang bagus" width="300" height="168" /></a></div>
<div>Bandara Frans Seda Maumere yang bagus</div>
<p>“Ini mau makan siang dulu atau langsung ke Bukit Nilo?” tanya Kak Martin.</p>
<p>“Bukit Nilo itu tempat apa?” tanya kami semua dengan wajah yang tetap ceria.</p>
<p>“Nanti ada patung Yesus dengan patung Bunda Maria yang ada di atas bukit.”</p>
<p>Mmm, sounds great.</p>
<p>“Karena masih jam segini juga, kita ke bukit Nilo aja dulu baru makan siang.”</p>
<p>Dan gas mobil diinjak dalam. Kami bergerak. Horeee!</p>
<p>Perjalanan menuju Bukit Nilo tak terlalu sulit. Jalannya pun tak berkelok-kelok walau ada beberapa lubang yang sempat membuat mobil ini berhenti, mundur, maju, berhenti lagi, dan akhirnya maju terus selamat dari lubang yang super gede.</p>
<p>Ini dia destinasi pertama kami. Patung Yesus yang disalib. Gede banget.</p>
<p>Puas berfoto ria. Kami pindah tempat ke patung Bunda Maria yang mungkin sekitar 10 menit dari patung Yesus tadi. Sebenarnya mulai dari titik awal jalan menuju Bukit Nilo, ada bangunan kecil-kecil yang menceritakan diorama penyaliban Yesus. Sayang karena jarak yang terlalu jauh antar bangunan dan saking gembiranya kami hingga tak menoleh kiri kanan yang kebanyakan hamparan rumput, aku gak ngikuti dari awal ceritanya. Dan bangunan kecil itu semakin mengecil jaraknya saat akan memasuki daerah patung Bunda Maria.</p>
<p>Oh my God, patungnya super duper guedeee. Ini gimana caranya bawa patung segede gaban ke atas bukit? Kami hanya tercengang dan akhirnya sibuk berfoto di bawah terik matahari yang sangat gila.</p>
<div id="attachment_1723"><a href="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/yesus-maria.jpg"><img title="Patung Yesus yang tinggi dan patung Bunda Maria yang besaar!" src="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/yesus-maria.jpg?w=300&amp;h=225" alt="Patung Yesus yang tinggi dan patung Bunda Maria yang besaar!" width="300" height="225" /></a></div>
<div>Patung Yesus yang tinggi dan patung Bunda Maria yang besaar!</div>
<p>Karena gak kuat panas, kami segera menyudahi acara foto dan siap pergi ke destinasi selanjutnya. Gereja Tua Sikka. Waktu tempuh dari Bukit Nilo ke Gereja Tua rupanya cukup lumayan, 30 menit. Dan terik matahari makin mengganas. Puanas!</p>
<p>Gereja Tua di Sikka berdiri sejak tahun 1800an. Arsitekturnya menarik dan rupanya baru saja direnovasi mengganti lantai. Patung yang ada di dalam gereja semua ditutup kain warna ungu. Katanya merupakan kebiasaan untuk menutup semua patung dalam rangka puasa menyambut Paskah.</p>
<div id="attachment_1724"><a href="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/gereja-tua-sikka.jpg"><img title="Gereja Tua Sikka yang bener-bener tua." src="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/gereja-tua-sikka.jpg?w=300&amp;h=300" alt="Gereja Tua Sikka yang bener-bener tua." width="300" height="300" /></a></div>
<div>Gereja Tua Sikka yang bener-bener tua.</div>
<p>Di belakang gereja tua ini ada ibu-ibu yang menjual kain tenun asli Sikka. Kainnya lembuuut banget dan harganya gak ramah di kantongku. Mengingat kain bawaanku dari Alor sudah segambreng, aku gak beli kain di sini. Kami pun main ke rumah pinggir pantai yang seperti bale-bale tapi besar sekali.</p>
<p>Rumah ini merupakan rumah adat peninggalan raja dan ratu Sikka. Ada lukisan yang hanya bergambar ratunya dengan gambar raja tampak jelas terobek. Angin yang semilir membuat rumah ini banyak dipakai untuk mengobrol dan bersantai siang oleh warga sekitar.</p>
<p>Perut minta diisi. Rupanya, jarak dari gereja tua hingga ke tempat makan siang lumayan panjang. Aku sempat tertidur dan dibangunkan sudah masuk ke halaman parkir rumah makan. Jam sudah menunjukkan pukul 14.00 WITA. Perut juga sudah keruyukan.</p>
<p>Rumah makannya berada di pinggir pantai. Tampak 2 bule yang sedang merokok dan minum bir setelah berenang. Ombak dan arus lautnya lagi bersahabat banget. Aku gak terlalu minat main ke pinggir pantainya karena panas. Sementara @aninouz, @risangpermana, dan Ridwan berteduh di bawah pohon pinggir pantai sambil foto-foto. Aku hanya menanti pesanan makanku yang tak kunjung muncul jua.</p>
<p>Satu jam kemudian,</p>
<p>Makanan masih belum muncul. Mau marah tapi gak bisa karena gak ada energi. Yang ada cuma pasrah sambil ngeliatin sepasang bule yang bawa 3 anak usia TK-SD dan satu batita. Bener-bener niat buat traveling sambil bawa anak. Si anak batitanya lucu banget. Matanya warna biru, pipinya gembil, pokoknya nyenengin dan pengen nowel pipinya.</p>
<p>Setengah jam dari satu jam yang tadi,</p>
<p>Makanan datang juga. Ternyata rumah makan ini tidak menyediakan makanan yang siap saji. Semua menu begitu dipesan baru dibuatkan. Jadilah aku yang pesan nasi ikan goreng plus sayur masih nunggu penjualnya nangkep ikan, dipotong, dibumbui, baru digoreng. Begitu pula dengan sayurnya yang (mungkin) masih metik dulu di kebun, cuci, potong, masak. Dan begitu makanan siap di depan mata, tanpa banyak omong, semua diam menyantap makanannya masing-masing.</p>
<p>Tamat makan, perjalanan dilanjutkan untuk menuju Moni. Kabarnya sampe Moni baru malem karena tadi kami terlalu lama nunggu makan. Etapi, di tengah perjalanan, Kak Martin memberhentikan mobilnya.</p>
<p>“Ini naik ke atas bukit biar dapet view yang bagus. Kemarin si Om (@Tukang_Jalan) juga naik ke sana ma foto.”</p>
<p>Okesip!</p>
<p>Karena semangat masih membara, kami berenam memutuskan untuk naik ke atas bukit. Jalannya bener-bener ngeri. Menanjak yang hampir 45 derajat dengan batu kerikil dan rawan terpeleset. Siaulnya, Kak Martin gak ikutan naik. Hih.</p>
<p>Butuh perjuangan buat naik ke bukit ini. Tapi rasa capek itu dibayar dengan pemandangan yang amazing plus Patung Yesus yang super gede lagi yang bikin kita makin kebingungan gimana patung itu bisa sampe ke puncak bukit.</p>
<p>“WOOOAA, DAEBAK!”</p>
<p>Itu yang kuucap berulang ketika sampai ke puncak bukit. Memandang lautan yang luas serta lekukan pulau dengan kapal yang nampak seperti mainan kecil yang banyak berlabuh di pinggir pantai. Angin yang berhembus cukup kencang bisa mengobati rasa panas dan keringat yang membasahi badan.</p>
<div id="attachment_1737"><a href="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/wpid-img_09591.jpg"><img title="Lihatlah ukuran mobil kami dilihat dari puncak bukit." src="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/wpid-img_09591.jpg?w=405&amp;h=270" alt="Lihatlah ukuran mobil kami dilihat dari puncak bukit." width="405" height="270" /></a></div>
<div>Lihatlah ukuran mobil kami dilihat dari puncak bukit.</div>
<p><img alt="" /></p>
<p>Karena matahari akan tenggelam, kami segera turun dengan ekstra hati-hati karena hampir semua dari kami sempat terpeleset. Dan perjalanan ini dilanjutkan menuju Moni, kaki gunung Kelimutu.</p>
<p>Matahari sudah selesai bertugas dan digantikan oleh bulan. Gelapnya sekitar yang menemani kak Martin menyetir mobil. Sempat berhenti di dua penginapan tapi sudah penuh dan kemudian menemukan bungalow Matagana untuk tempat kami istirahat. Taruh barang kemudian pergi lagi cari makan. Sebenernya gak laper sih ya, tapi kalo gak makan, tengah malam bisa kelaperan. Dan sekali lagi, makanan tidak ada yang siap saji. Semua pesan dulu baru dibikinin satu-satu. Lama. Hih.</p>
<p>Jam sembilan lebih, kami kembali ke penginapan. Mandi dengan air yang katanya bisa panas padahal yang keluar dari kran cuma air dingin dan kemudian tidur. Karena harus bersiap jam 4 sudah bangun dan jalan lagi menuju Kelimutu buat ngejar sunrise.</p>
<p>Hari ini semangat kami masih menggebu. Muka kami ceria. Kusimpan semangatku buat bangun pagi. Buat ngelihat danau 3 warna, Kelimutu.</p>
<p>Malam itu, mimpiku tak buruk sama sekali karena ternyata aku tak bermimpi. Dan setelah bangun pagi, senyumku makin mengembang. Kutemukan tanggal di kalender sudah berubah jadi 24 Maret.</p>
<p>Kenapa 24 Maret? Ada apa?</p>
<p>Nantikan potongan cerita jelajah Flores berikutnya ya ^^</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tukangjalan.com/jelajah-flores-part-1-di-sini-keceriaan-dimulai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jelajah Flores (part 2): Ada Cinta di Tiap Pertambahan Usia</title>
		<link>http://www.tukangjalan.com/jelajah-flores-part-2-ada-cinta-di-tiap-pertambahan-usia/</link>
		<comments>http://www.tukangjalan.com/jelajah-flores-part-2-ada-cinta-di-tiap-pertambahan-usia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Apr 2013 06:26:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webadmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Holiday]]></category>
		<category><![CDATA[Review Stories]]></category>
		<category><![CDATA[Schedule Trip]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tukangjalan.com/?p=13878</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ke-2 dari 4 tulisan oleh Maretha
Sudah baca yang di sini kan? Berarti sudah siap buat jelajah Flores di bagian kedua? Teriak SIAP dulu cobaaa. *kemudian terdengar teriakan kata siap sampe di Malang*
Untuk rute di hari kedua, 24 Maret 2013 adalah Moni-Kelimutu, Ende, Pantai Blue ... ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan ke-2 dari 4 tulisan oleh <a href="http://primariayu.wordpress.com/2013/04/05/jelajah-flores-part-2-ada-cinta-di-tiap-pertambahan-usia/">Maretha</a></p>
<p>Sudah baca yang <a title="Jelajah Flores (part 1): Di Sini Keceriaan Dimulai" href="http://primariayu.wordpress.com/2013/04/02/jelajah-flores-part-1-di-sini-keceriaan-dimulai/" target="_blank">di sini</a> kan? Berarti sudah siap buat jelajah Flores di bagian kedua? Teriak SIAP dulu cobaaa. *kemudian terdengar teriakan kata siap sampe di Malang*</p>
<p>Untuk rute di hari kedua, 24 Maret 2013 adalah Moni-Kelimutu, Ende, Pantai Blue Stone, dan berakhir di Riung. Dan sebelumnya dibiilang ada yang spesial di tanggal 24 Maret kan? Apaan tuh?</p>
<p>03.00 WITA</p>
<p>Retha sukses bangun tanpa alarm. Seperti hari-hari sebelumnya, begitu melek langsung megang dek Onyx. Eh, ada BBM ama mention.</p>
<p>“Happy Birthday, Retha!”</p>
<p>Mata langsung berbinar, senyum kemudian merekah. I’m getting older. Meskipun tak ada ucapan yang spesial dari orang yang spesial, tetap saja aku punya kado spesial untuk diriku sendiri. Menyaksikan matahari terbit dari puncak Danau Kelimutu.</p>
<p>Setelah bersiap, gosok gigi, plus cuci muka, disalamin sama @aninouz, @aprilianayu ma @dzadvena, ban mobil kami siap menggilas jalanan Moni yang licin karena embun pagi. Sekitar 30 menit, sampailah kami di pintu masuk Taman Nasional Kelimutu. Lapor diri dan mobil kembali melaju sampai parkiran.</p>
<div><a href="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/wpid-img_20130324_0541011.jpg"><img title="my first amazing birthday gift, sunrise at Kelimutu" src="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/wpid-img_20130324_0541011.jpg?w=620" alt="my first amazing birthday gift, sunrise at Kelimutu" width="500" height="375" /></a></div>
<div>my first amazing birthday gift, sunrise at Kelimutu</div>
<p>05.00 WITA</p>
<p>Disambut oleh Bapa Markus, kami diantarkan sampai ke puncak Danau Kelimutu. Oke, ini sudah termasuk trekking meskipun jalannya gak seheboh menuju bukit Yesus yang terakhir kami kunjungi kemarin. Lumayan jauh juga lho menuju puncak, tapi hawa yang dingin dan pemandangan langit ketika matahari akan lahir menjadi sebuah suguhan apik dan kado istimewa untuk ulang tahunku.</p>
<p>Subhanallah. Retha menjejakkan kaki di tanah Kelimutu. Yang selama ini Danau Kelimutu cuma bisa kunikmati lewat foto, sekarang danau itu tampak di hadapanku. Senyata-nyatanya.</p>
<p>Danau Kelimutu yang terkenal dengan danau tiga warna saat ini sedang bagus. Musim penghujan sudah lewat sehingga danaunya tak tertutup oleh kabut. Meskipun awan menyembul nakal menutupi proses lahirnya sang mentari. Mungkin yang ada dalam pikiran semuanya, termasuk aku, danau ini berjejer sehingga terlihat jelas 3 perbedaan warnanya. Tapi ternyata tidak. Hanya ada 2 danau yang berdampingan dan satu danau ada di seberangnya.  Dan perlu diketahui, kita cuma bisa lihat danau ini dari puncak. Tak bisa lagi turun ke pinggir danau karena tak ada akses jalan setelah Kelimutu terlanda gempa tahun 1992.</p>
<p>Kali ini danau Kelimutu sedang berwarna hijau-putih, coklat-merah, hitam-biru. Kabarnya, warna air dalam tiga danau ini sering berubah-ubah paling tidak sebulan sekali. Ah, kalau warnanya jadi cerah pasti jadinya lucu deh.</p>
<div><a href="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/wpid-danau-kelimutu1.jpg"><img title="Ki: danau besar airnya warna hijau-putih, sebelahnya warna coklat-merah, Ka: warna hitam-biru" src="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/wpid-danau-kelimutu1.jpg?w=620" alt="Ki: danau besar airnya warna hijau-putih, sebelahnya warna coklat-merah, Ka: warna hitam-biru" width="620" height="221" /></a>Ki: danau besar airnya warna hijau-putih, sebelahnya warna coklat-merah, Ka: warna hitam-biru</div>
<p>Monyet juga hidup di sekitaran danau sini. Beberapa monyet tampak berjalan dan bergelantungan dip agar pembatas ketika tahu ada banyak manusia di puncak. Si monyet bisa dikasih biskuit. Tapi hati-hati dengan gadget Anda! Bisa-bisa dicuri si monyet.</p>
<p>Bukan orang Indonesia kalo gak suka foto. Iya sih, kita suka foto, tapi Bapa Markus ini bisa njepret kita dalam berbagai pose di berbagai spot foto hingga ratusan foto. Edyan! Jadi buat kalian yang mau main ke Kelimutu, nanti minta ketemu Pak Markus biar dijepret sampe puas, sampe kehabisan gaya.</p>
<p>07.30 WITA</p>
<p>Kembali ke parkiran. Mengucapkan salam sampai berjumpa kembali pada Bapa Markus dan melajulah si Innova menuju Ende, ibukota kabupaten Ende buat sarapan dan berkunjung ke rumah pengasingan presiden pertama Indonesia, Soekarno.</p>
<p>11.15 WITA</p>
<p>Perut kenyang, hati kembali senang. Namun, kami dikecewakan ketika sampai di depan rumah pengasingan tadi. Pagarnya digembok, lampu di depan rumah dalam keadaan nyala. Setelah bertanya pada gerombolan kakak di seberang rumah tersebut, rumah ini tutup di hari Minggu. Hiks. Cuma bisa jepret depannya aja dari dalam mobil. Sengaja gak keluar karena mentari lagi ganas.</p>
<div><a href="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/wpid-img_11761.jpg"><img title="jangan pergi ke sini hari Minggu karena tutup!" src="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/wpid-img_11761.jpg?w=405&amp;h=270" alt="jangan pergi ke sini hari Minggu karena tutup!" width="405" height="270" /></a>jangan pergi ke sini hari Minggu karena tutup!</div>
<p>Perjalanan ini berlanjut untuk pergi ke Pantai Blue Stone, yang katanya nih di pantai ini batunya warna biru semua. Ah, pasti cantik kek aku *tebar confetti*</p>
<p>Gak jauh juga perjalanan dari Ende ke Pantai Blue Stone. Sekitar satu jam kemudian, kami sudah menghambur keluar dari dalam mobil untuk bermain di pinggir pantainya.</p>
<p>12.10 WITA</p>
<p>Pasir pantainya berwarna hitam. Batunya kebanyakan berwarna biru telur asin. Matahari pas menyengat di atas kepala bikin pasir ikutan panas, kepala juga gak bisa dilama-lamain di bawah sinar matahari.</p>
<div><a href="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/wpid-blue-stone-beach.jpg"><img title="beautiful blue &lt;3" src="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/wpid-blue-stone-beach.jpg?w=620" alt="beautiful blue &lt;3" width="620" height="209" /></a>beautiful blue &lt;3</div>
<p>Kebanyakan batu yang ada di pantai ini sudah dikumpulkan oleh pengepul batu. Kalo kata Kak Martin, batu-batu ini nantinya dikirim ke Surabaya dan dijual buat hiasan akuarium. Lah terus kalo terus-terusan dikumpulin, bisa-bisa keberadaan batu biru ini bakal musnah dong? Kan batu bukan jenis makhluk hidup. Dan memang benar adanya keberadaan batu di pinggir pantai sudah jarang dijumpai. Karena banyak dijumpai di pinggir jalan tempat batu-batu tadi sudah dikelompokkan berdasar besar kecilnya oleh para pengepul batu.</p>
<p>Dari Ende, kami menuju Riung. Sebuah kecamatan paling timur dari Kabupaten Ngada. Waktu tempuh dari Pantai Blue Stone menuju Riung sekitar 3 jam dengan melewati kota Mbay, ibukota Kabupaten Nagekeo.</p>
<p>15.30 WITA</p>
<p>Sampai di hotel Bintang Wisata, Riung. Hotelnya udah ada ACnya. Cuma listrik di sini 12 jam saja. Jadi baru nyala jam 6 nanti. Oalaah, kok kayak Bukapiting jaman dulu aja. Tapi ndak papa lah, yang penting nanti ada listrik dan AC bisa nyala. Hihihi.</p>
<p>17.40 WITA</p>
<p>Kak Martin membawa kami ke sebuah bukit untuk menyaksikan sunset. Bahkan bukitnya lebih atas lagi dari si Om @Tukang_Jalan kunjungi, begitu kata Kak Martin. Ternyata Riung memang bukan tempat yang tepat untuk menikmati tenggelamnya matahari karena Riung diputari oleh gunung dan banyak bukit. Tapi dari atas bukit ini, tersaji suguhan hamparan kepulauan yang ada di Riung. Pulau yang keesokan hari akan kami jelajahi. Kepulauan yang indah sehingga di sinilah kami akan memulai Wisata 17 Pulau Riung.</p>
<div id="attachment_1766"><a href="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/wpid-img_12031.jpg"><img title="my second amazing birthday gift, senja di Riung" src="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/wpid-img_12031.jpg?w=320&amp;h=480" alt="my second amazing gift, senja di RIung" width="320" height="480" /></a>my second amazing birthday gift, senja di Riung</div>
<p>19.00 WITA</p>
<p>Makan malam bersama dengan menu ikan kuah asam-pedas dan tumis sayur untuk merayakan pertambahan usia Retha menjadi seperempat abad. Dengan mengucap syukur Alhamdulillah, meskipun tahun ini gak dapet kado, tapi seenggaknya Retha dapet temen baru, dapet keluarga baru. Dan aku yakin, selalu ada cinta yang menantiku di tiap pertambahan usiaku.</p>
<p>Untuk pertama kalinya Retha merayakan ulang tahun jauh dari keluarga di Malang. Dan kali ini pula, kuhadiahi diri sendiri dengan jalan-jalan yang pastinya sangat berkesan. Sebuah jelajah yang pasti bikin orang lain banyak iri. Ya kan? Ngaku deh. Hihihi.</p>
<p>21.30 WITA</p>
<p>Bersiap di atas kasur dengan AC yang ternyata rusak. Oh, sungguh malam yang panas ditemani kipas angin saja. Meskipun demikian keceriaan dari hari pertama masih terjaga, usia bertambah juga tak mengurangi semangatku yang menggelora. Kenapa? Karena besok bakal nyebur ke laut. Yes! Snorkeliiiing…. ^^</p>
<p>Gimana dengan indahnya snorkeling saat wisata 17 pulau di Riung? Ketemu apa aja? Jangan bosan buat nunggu part 3 ya. Dan kalo kamu ngikutin potongan cerita jelajah Flores sampe habis, ada hadiah kartu pos Flores buat kamu yang beruntung dan suka koleksi kartu pos <img src="http://s1.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif?m=1129645325g" alt=";)" /></p>
<p>Terus nantikan potongan cerita jelajah Floreeeess ~~~(/ ^°^)/</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tukangjalan.com/jelajah-flores-part-2-ada-cinta-di-tiap-pertambahan-usia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jelajah Flores (part 3): Keindahan yang Tak Mampu Didustakan</title>
		<link>http://www.tukangjalan.com/jelajah-flores-part-3-keindahan-yang-tak-mampu-didustakan/</link>
		<comments>http://www.tukangjalan.com/jelajah-flores-part-3-keindahan-yang-tak-mampu-didustakan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Apr 2013 06:24:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webadmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Holiday]]></category>
		<category><![CDATA[Review Stories]]></category>
		<category><![CDATA[Schedule Trip]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tukangjalan.com/?p=13884</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ke-3 dari 4 tulisan oleh Maretha
Puas di part 1 dan part 2, mari kita melanjutkan membaca catatan perjalanan jelajah Flores di part 3.
Kali ini, Senin, 25 Maret 2013 di saat orang-orang terkena Monday Syndrome, kami malah asyik jalan dengan rute Wisata 17 Pulau Riung-So’a-Bajawa.
Setelah ... ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan ke-3 dari 4 tulisan oleh <a href="http://primariayu.wordpress.com/2013/04/09/jelajah-flores-part-3-keindahan-yang-tak-mampu-didustakan/">Maretha</a></p>
<p>Puas di <a title="Jelajah Flores (part 1): Di Sini Keceriaan Dimulai" href="http://primariayu.wordpress.com/2013/04/02/jelajah-flores-part-1-di-sini-keceriaan-dimulai/">part 1</a> dan <a title="JELAJAH FLORES (part 2): Ada Cinta di Tiap Pertambahan Usia" href="http://primariayu.wordpress.com/2013/04/05/jelajah-flores-part-2-ada-cinta-di-tiap-pertambahan-usia/">part 2</a>, mari kita melanjutkan membaca catatan perjalanan jelajah Flores di part 3.</p>
<p>Kali ini, Senin, 25 Maret 2013 di saat orang-orang terkena Monday Syndrome, kami malah asyik jalan dengan rute Wisata 17 Pulau Riung-So’a-Bajawa.</p>
<p>Setelah 2 hari bermain di darat, ini saat yang tepat untuk bermain di air. Wisata 17 Pulau di Riung adalah wisata yang saat ini sedang digemborkan oleh pemerintah Flores. Tapi tentu saja kali ini gak ngiterin 17 pulau. Hanya beberapa pulau saja yang kami sambangi. Apa saja? Pake pelampung, masker, snorkel sama fin ya ^^</p>
<p>Bersama bapak yang punya kapal, Bapak Duking, kami siap mengarungi lautan dengan tujuan pertama, Pulau Kalong. Pasti yang ada di dalam benak kalian, sebuah gua yang penuh dengan kelelawar. Ya aku juga mikir gitu sih. Makanya kami sante aja, asyik haha-hihi, sampe akhirnya mesin motor dimatikan di depan sebuah pulau yang isinya pohon doang.</p>
<p>“Kita sudah sampai di Pulau Kalong. Itu ada yang lagi terbang,” ujar Pak Duking sambil menunjuk kelelawar yang asyik terbang dan kelelawar yang lagi gelantungan di dahan pohon.</p>
<p>Astaga. Kirain itu tadi daun yang udah kering, siap jatuh ke tanah. Ternyata KALONG! Kok bisa ya mereka berjemur di bawah sinar matahari? Ini beneran kalong apa bukan sik?</p>
<div><a href="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/img_1263.jpg"><img id="i-1777" title="yang warna hitam itu kalong." src="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/img_1263.jpg?w=520&amp;h=346" alt="Image" width="520" height="346" /></a></div>
<div><span style="text-decoration: underline;"><em>yang warna hitam itu kalong.</em></span></div>
<div></div>
<div><a href="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/img_1291.jpg"><img id="i-1780" title="Ada Batman! Aaaak!" src="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/img_1291.jpg?w=520&amp;h=346" alt="Image" width="520" height="346" /></a></div>
<div><em><span style="text-decoration: underline;">Ada Batman! Aaaak!</span></em></div>
<p>Butuh teriakan super kencang untuk membuat kalong yang enak gelantungan jadi bangun dan terbang. Cuma tak ada yang bisa berteriak hebat dan menggelegar sehingga hanya satu, dua, tiga, mungkin sampe sepuluh kelelawar bangun dan terbang ke sana kemari. Pertunjukan terbangnya kalong juga ditambah seru dengan aksi elang yang menukik sana sini mencari mangsa. *plok plok plok</p>
<p>“Tujuan berikutnya kita ke Pulau Borong. Di sana nanti Mbak sama Mas bisa  nyebur dan snorkeling. Tapi kita gak merapat. Kapalnya berhenti di tengah dan langsung nyebur. Gak boleh merapat karena jangkar bakal merusak karang.”</p>
<p>Dan senjata dikeluarkan dari dalam tas. Iya! Sun block dengan SPF 30. Hehehe. Kemudian heboh milih masker, snorkel dan pelampung. Tak lupa kusiapkan kamera underwater hasil pinjaman dari @tichewaw</p>
<p>“Bisa nyebur di sini.”</p>
<p>BYUR!</p>
<p>Lautnya dalem banget dan kami langsung disajikan keindahan school of fish. Diambilkan bintang laut warna biru dan kami perdaya untuk foto-foto.</p>
<div><a href="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/100_1314.jpg"><img id="i-1784" title="school of blue fish" src="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/100_1314.jpg?w=520&amp;h=390" alt="Image" width="520" height="390" /></a></div>
<div><span style="text-decoration: underline;"><em>school of blue fish</em></span></div>
<p>Karena waktu yang semakin siang dan tujuan kami belum habis, sekitar 1 jam kemudian kami berpindah tempat ke Pulau Rutong. Pulau ini dilengkapi dengan gazebo. Tapi gazebonya sudah rusak. Sepertinya pemerintah tak ada yang merawat. Sampah juga terlihat di pinggir pantai. Oh iya, kali ini kapal kami bisa merapat. But unfortunately, karang dan kumpulan ikan bisa dilihat jauh dari bibir pantai. Sepanjang kami snorkeling dekat pantai, cuma rumput alang-alang yang tampak. Hih.</p>
<p>Di sini kami menemukan banyak bintang laut warna hitam-oranye. Dan kemudian kami memanfaatkan bintang laut untuk property pemotretan. Nguk.</p>
<div><a href="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/img_1342.jpg"><img id="i-1789" src="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/img_1342.jpg?w=520&amp;h=346" alt="Image" width="520" height="346" /></a></div>
<div><span style="text-decoration: underline;"><em>FUN!</em></span></div>
<p>“Nanti kita makan siang, makan ikan bakar di pinggir pantai Pulau Tiga. Sekarang sudah jam setengah sebelas, jadi pas sampe sana jam sebelas untuk renang dulu baru makan siang.”</p>
<p>Dan kami kembali berteriak ceria. YIPPY!</p>
<p>Pulau Tiga, katanya keindahan bawah lautnya paling sip. Dan terbukti, dari 3 tempat snorkeling, pulau Tiga sinilah yang paling indah. Karang yang bagus, ikan yang berenang gembira, dan tepi pantai yang sudah dilengkapi tempat bakar ikan.</p>
<div><a href="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/100_1421.jpg"><img id="i-1792" title="Finding Nemo \o/" src="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/100_1421.jpg?w=520&amp;h=390" alt="Image" width="520" height="390" /></a></div>
<div><span style="text-decoration: underline;"><em>Finding Nemo \o/</em></span></div>
<div></div>
<div><a href="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/100_1425.jpg"><img id="i-1797" title="Ramenyaaa :”)" src="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/100_1425.jpg?w=520&amp;h=390" alt="Ramenyaaa :”)" width="520" height="390" /></a></div>
<div><em><span style="text-decoration: underline;">Ramenyaaa :”)</span></em></div>
<p>Pulang renang yang ada ya lapar. Dan di pinggir pantai, telah tersaji ikan bakar yang membuat ludah hampir menetes dan kami langsung melahapnya tandas. Aaak, ini surga beneran. Makan ikan segar yang sudah dibakar dengan sayuran ditambah hembusan angin pantai. Kurang es kelapa muda aja nih. Hohoho.</p>
<p>Jam 2 tepat, kami sudah tiba lagi di pelabuhan RIung. Mengucap sampai jumpa pada pak Duking dan kembali ke hotel untuk bilas badan.</p>
<p>Jam 3.30 sore, kami kembali melaju menuju pemandian air panas Soa. Di perjalanan dekat dengan Soa, langit sudah gelap. Tapi tak membendung semangat kami begitu tiba di pemandian air panas. Kami langsung masuk dan merendamkan kaki di kolam air hangat.</p>
<p>Tiba-tiba, BREESS! Hujan jatuh dengan deras dan sukses membuat kami berlari kalang kabut ke depan. Berteduh di warung dan memesan teh hangat manis. Aih, sedaaap! Meskipun misi berendam dalam air panas gagal, kami tak berkecil hati. Karena Bajawa telah menanti kami. Bajawa, ibukota kabupaten Ngada yang terkenal dengan udara dinginnya.</p>
<p>Hotel Karina, hotel yang bagus banget dengan kamar yang nyaman siap mengantar kami beristirahat sebelum esok kembali menjelajahi Bajawa.</p>
<p>26 Maret 2013</p>
<p>Kampung adat Bena menjadi tujuan pertama kami. Yang ada dalam benakku, kampung ini mirip kayak Desa Takpala, desa adat di Alor yang ada di ketinggian jadi kami harus jalan mendaki, terus akses listrik nol alias sama sekali gak masuk. Tapi ternyata beda! Di sini sudah ada listrik, sinyal juga oke. Penduduknya lebih berpendidikan. Hampir di setiap rumah, ada selendang yang tergantung untuk dijual. Harga yang ditawarkan untuk selendang kecil adalah 75 ribu. Cukup mahal dibanding di Alor. Tapi lembutnya kainnya itu bikin ngiler pengen beli.</p>
<div><a href="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/img_1467.jpg"><img id="i-1800" title="Look at the Kampong not at the beautiful model ^^" src="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/img_1467.jpg?w=520&amp;h=346" alt="Look at the Kampong not at the beautiful model ^^" width="520" height="346" /></a></div>
<div><span style="text-decoration: underline;"><em>Look at the Kampong not at the beautiful model ^^</em></span></div>
<div></div>
<div><a href="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/img_1507.jpg"><img id="i-1804" title="mejeng lagi gak salah kan?" src="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/img_1507.jpg?w=520&amp;h=346" alt="mejeng lagi gak salah kan?" width="520" height="346" /></a></div>
<div><span style="text-decoration: underline;"><em>mejeng lagi gak salah kan?</em></span></div>
<p>Di puncak desa ini, kami beristirahat sejenak sambil lihat pemandangan gunung di seberang. Dan di sini kami bertemu dengan salah satu backpacker asal Bandung, yang sampai sekarang kami memanggilnya Ujang karena kami gak nanya namanya sapa. Bahahaks. Dia cerita kalo dia mulai jelajah dari Labuan Bajo and that place is very amazing. Jadi bikin gak sabar cepet ke Labuan Bajo nih.</p>
<p>Perjalanan dari Bena menuju Ruteng, ibukota Kabupaten Manggarai cukup jauh dan dengan jalan yang masih berkelok-kelok. Di tengah perjalanan, Kak Martin menghentikan laju Innova dan parkir dekat tembok. Di balik tembok tadi, tersembunyi keindahan. Sebuah danau yang tak mungkin kami jangkau untuk memegang airnya, danau Ranamase.</p>
<div><a href="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/img_15561.jpg"><img id="i-1816" title="so calm" src="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/img_15561.jpg?w=520&amp;h=346" alt="so calm" width="520" height="346" /></a></div>
<div><span style="text-decoration: underline;"><em>so calm</em></span></div>
<p>Karena hujan rintik turun terus, kami segera naik mobil dan melanjutkan perjalanan menuju Desa Adat Ruteng. Awalnya agak bingung ini desa adat atau bukan karena banyak rumah yang sudah seperti rumah modern. Eh ternyata, rumah adat di desa ini cuma ada dua. Kata salah satu penghuni rumah adat, hanya ada dua karena memang yang diperbolehkan dari nenek moyangnya ya cuma dua itu. Sebenarnya mereka bersaudara tapi beda suku. Sayangnya waktu ditanya bagaimana sejarahnya, si nona penghuni rumah ini sudah tak tahu sejarahnya. Sejarah yang hilang ditelan masa. Hiks.</p>
<div id="attachment_1861"><a href="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/img_1577.jpg"><img title="jangan bosen sama aku ya :)" src="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/img_1577.jpg?w=373&amp;h=560" alt="jangan bosen sama aku ya :)" width="373" height="560" /></a></div>
<div><span style="text-decoration: underline;"><em>jangan bosen sama aku ya <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1129645325g" alt=":)" /></em></span></div>
<p>Di Ruteng, kami menginap di sebuah hotel yang aslinya tempat suster sekolah. Suasananya asri. Ditambah hawa Ruteng yang dingin bikin pengen selimutan aja dalam kamar. Hotel Susteran, begitu namanya di Trip Advisor, menempati posisi pertama pada pencarian hotel di Ruteng. Buat kalian yang mau nginap di Ruteng, alangkah baiknya untuk menginap di sini karena mau yang model dorm atau kamar pribadi ada. Dan karena ini sekolah suster, maka gerbang akan ditutup pada jam 9 malam.</p>
<p>27 Maret 2013</p>
<p>Hari terakhir kami akan menjelajahi daratan sebelum akhirnya akan berlabuh di Labuan Bajo, ibu kota Kabupaten Manggarai Barat. Tempat yang dikunjungi hari ini adalah Cancar dan Cunca Rami.</p>
<p>Cancar adalah nama daerah yang terkenal dengan hamparan sawah yang berbentuk seperti jaring laba-laba (spider web). Datang kemari harus di pagi hari karena badan masih segar (sebenernya uda 4 hari kayak kutu loncat, stamina turun). Bersabarlah untuk mendaki ke atas bukit agar bisa mendapatkan lukisan alam yang indah ini.</p>
<div><a href="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/img_1416.jpg"><img id="i-1820" title="kurang Spiderman lagi macul di sini." src="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/img_1416.jpg?w=520&amp;h=390" alt="kurang Spiderman lagi macul di sini." width="520" height="390" /></a></div>
<div>k<span style="text-decoration: underline;"><em>urang Spiderman lagi macul di sini.</em></span></div>
<p>Tak perlu berlama-lama di Cancar karena jarak dengan Cunca Rami lumayan jauh, butuh 3 jam lagi. Dan jangan lupa nanti di tengah perjalanan harus singgah beli makan siang sebagai bekal dimakan di Cunca Rami.</p>
<p>“Berapa lama nanti trekking ke Cunca Rami?”</p>
<p>“30-45 menit.”</p>
<p>“Jalannya mendaki?”</p>
<p>“Nanti turun dulu. Baliknya yang baru mendaki.”</p>
<p>“Oh, oke.”</p>
<p>Cunca memiliki arti air terjun. Tentu saja yang ada dalam benakku, trekking ke air terjun mungkin seperti aku trekking ke air terjun yang ada di Kebun Purwodadi. Lumayan berat sih, tapi masih sanggup lah. Dan oh my God, trekking di Cunca Rami ini sangat sulit. Cunca Rami memang belum dikelola oleh pemerintah daerah setempat, jadi ya cukup ngeri buat trekking di sini. Plus jaraknya yang jauh.</p>
<p>Pertama kita harus menuruni hutan sebelum akhirnya bertemu sawah. Berjalan di pematang sawah yang banyak jebakan lumpurnya, diselingi menyeberangi sungai dengan aliran yang lumayan deras dan diakhiri kembali oleh jalan di sawah. Hiks. Aku ini bukan tipe cewek yang suka trekking beginian, jadi yang ada cuma mengeluh dalam hati. Apalagi aku berulang-ulang kepleset dan sukses masuk di lumpurnya sawah. Ngik krik.</p>
<p>Ini dia si Cunca Rami yang bikin nafas tersengal-sengal.</p>
<div id="attachment_1857"><a href="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/img_1655.jpg"><img title="Ndak mau kalo diajak ke sini lagi T~T" src="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/img_1655.jpg?w=328&amp;h=493" alt="Ndak mau kalo diajak ke sini lagi T~T" width="328" height="493" /></a></div>
<div><span style="text-decoration: underline;"><em>Ndak mau kalo diajak ke sini lagi T~T</em></span></div>
<p>Dan oke, jalan balik ke atas lebih parah lagi. Aaaak. Mendaki hutan ini yang bikin kaki lemes, jantung udah berdebar paling maksimal sampe rasanya mau copot. Berulang kali menghentikan langkah karena ya udah lemes. Rasanya udah mau menyerah, tapi kalo aku pingsan sapa yang mau gotongin aku cobaaa? Huhuhu.</p>
<p>Dengan dipacu semangat oleh adik kecil yang sedari awal nemenin perjalanan kami, akhirnya aku sampe juga di atas. Dan dalam hati telah mengobarkan tekad, “AKU GAK MAO LAGI KALO DIAJAK KE CUNCA RAMI!”</p>
<p>Menyadari pertambahan usia akan berbanding terbalik dengan stamina tubuh, aku memilih diam dan berusaha menenangkan diri selama perjalanan ke Labuan Bajo. Karena mulai sore nanti, kami bakal hidup di atas kapal dan segera bertemu dengan komodo dan laut lagi! Yes.</p>
<p>17.00 WITA, sampai di pelabuhan Labuan Bajo. Bertemu dengan Tya, salah satu teman dokter gigi yang PTT di Manggarai Barat. Menaiki kapal Papa Anang dan berpisah sementara dengan Kak Martin.</p>
<p>Rasanya energi yang tadi terkuras habis di Cunca Rami perlahan mulai terisi lagi karena menghirup udara laut yang segar.</p>
<p>Sang kapten kapal, Papa Anang berseru, “sekitar 30 menit ke depan, bakal kerasa gelombang. Tapi setelah kita melewati pulau itu (sambil menunjuk ke pulau yang entah namanya apa), laut bakal tenang.”</p>
<p>“Kami bakal dibawa ke mana ini, Papaaa?”</p>
<p>“Kalo belum gelap, kita nanti mampir di Pulau Kalong. Tapi kalo sudah gelap, ya berarti kita langsung ke Pulau Rinca. Nanti kita menginap di situ, biar besok pagi langsung trekking ke Pulau Rinca lihat komodo.”</p>
<p>KOMODO? Bukan Kodomo kaaan? Kyaaa!</p>
<p>Bulan bersinar sangat terang karena sedang bulan purnama. Ukurannya juga membuatku berdecak kagum. Ini bulan yang rasanya terlihat begitu dekat dan sangat besar. Ah, bulan purnama yang berasa kayak liat matahari. Belum lagi purnama melihatku tersenyum setelah mendapat pesan dari seseorang. Iya, seseorang yang kemudian mematahkan hatiku di malam berikutnya (ceritanya bisa disimak <a title="Malam Ini" href="http://primariayu.wordpress.com/2013/03/28/malam-ini/">di sini</a> lho :p)</p>
<div><a href="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/img_1697.jpg"><img id="i-1830" title="is that full moon? not a sun?" src="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/img_1697.jpg?w=520&amp;h=346" alt="is that full moon? not a sun?" width="520" height="346" /></a></div>
<div><span style="text-decoration: underline;"><em>is that full moon? not a sun?</em></span></div>
<p>2 jam dari keberangkatan tadi, sampai juga di depan dermaga Pulau Rinca. Katanya komodo juga bisa tiba-tiba muncul di dermaga ini lho. Pasti lucu kalo besok pagi disambut komodo. Hehe.</p>
<p>Malam terasa sangat tenang setelah Papa Anang menyajikan santap malam yang begitu nikmat dan dilanjutkan rundingan tempat mana saja yang bakal kami jelajahi. Mengingat ada dua teman yang harus balik di tanggal 29 siang sampe Labuan Bajo, maka ada beberapa tempat yang dicut alias gak dikunjungi.</p>
<p>Rute kami untuk 2 hari ke depan: Pulau Rinca-Pulau Padar-Manta Point-Gili Lawa-Pulau Sebayur-Pulau Kanawa.</p>
<p>Rute keliling pulau ini sangat amat seru. Ketemu apa aja di Pulau Rinca? Kenapa kok gak ke Pulau Komodo? Manta itu apa? Ngapain di Gili Lawa? Semuanya bakal kejawab di potongan cerita final part, Jelajah Flores part 4. Dan jangan lupa buat kalian yang hobi koleksi kartu pos dan beruntung yang nyimak postingan dari nomer 1, 2, 3 dan sampe nanti terakhir 4, ada kartu pos dari Flores yang siap dikirim ke rumahmu. Simak terus yaaa ^^</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tukangjalan.com/jelajah-flores-part-3-keindahan-yang-tak-mampu-didustakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jelajah Flores (final part): SEMPURNA!!</title>
		<link>http://www.tukangjalan.com/jelajah-flores-final-part-sempurna/</link>
		<comments>http://www.tukangjalan.com/jelajah-flores-final-part-sempurna/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Apr 2013 06:22:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webadmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Holiday]]></category>
		<category><![CDATA[Review Stories]]></category>
		<category><![CDATA[Schedule Trip]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tukangjalan.com/?p=13893</guid>
		<description><![CDATA[Bagian Terakhir dari 4 Tulisan Maretha
Sudah sampe di bagian keempat yang mana adalah bagian terakhir dari potongan ceritaku jelajah Flores. Dan di bagian ini adalah bagian yang sempurna. Meski seluruh sempurna adalah milik Yang Kuasa, tapi tetap ini yang paling pas. Paling dinanti dari perjalanan ... ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagian Terakhir dari 4 Tulisan <a href="http://primariayu.wordpress.com/2013/04/11/jelajah-flores-final-part-sempurna/">Maretha</a></p>
<p>Sudah sampe di bagian keempat yang mana adalah bagian terakhir dari potongan ceritaku jelajah Flores. Dan di bagian ini adalah bagian yang sempurna. Meski seluruh sempurna adalah milik Yang Kuasa, tapi tetap ini yang paling pas. Paling dinanti dari perjalanan panjang dari Maumere. Dan memang benar kata si Ujang, sang backpacker asal Bandung yang ku tak tahu namanya, Labuan Bajo dengan pulau di sekitarnya adalah yang paling bagus, yang paling indah, yang paling sempurna.</p>
<p>Rundingan yang agak sengit terjadi di malam hari saat kapal sudah parkir di dermaga Pulau Rinca. Seharusnya itinerary yang sudah tersusun sejak awal jadi bubar dan harus dirombak total karena ada teman yang harus kembali ke Labuan Bajo tanggal 29 siang. Beberapa tempat yang harus dikorbankan adalah Pulau Komodo dan Pink Beach.</p>
<p>Kata Papa Anang, jaminan bertemu komodo adalah di Pulau Rinca karena populasi komodo yang lebih banyak ketimbang di Pulau Komodo sendiri. Awalnya aku berat hati karena gak ke Pulau Komodo, tapi mendengar alasan itu dan memang tujuanku pengen ketemu komodo, akhirnya aku bisa berlega hati.</p>
<p>Lagi-lagi kata Papa Anang, Pink Beach itu kecil, cuma seupil, kurang puas nanti main di pantainya. Padahal kata orang-orang, belum lengkap ke Flores kalo gak ke Pink Beach. Tapi Papa Anang menawarkan Pantai Padar yang katanya lebih luas dan lebih bagus buat snorkeling. Mengingat arus di Pink Beach juga lagi gak bersahabat. Dan baiklah, kami antimainstream menerima semua alasan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Taman Nasional Komodo, Loh Buaya, Pulau Rinca</strong></p>
<p>Matahari sudah bersinar terik meskipun angka jam masih menunjukkan pukul 07.30. Rasa excited kami sangat terasa sejak di depan gerbang kedatangan. Disambut dua ranger (ayayayay, power ranger), Pak Kuba dan Pak Pei, kami siap diantar berkeliling Pulau Rinca untuk bertemu komodo. Sampai di kantor, tentu saja bayar biaya masuk. Semalam Papa Anang cerita kalo biaya masuk per orang 20 ribu dan satu kamera digital dihargai 50 ribu. Tapi kami dikejutkan karena biaya masuk untuk turis domestik hanya 2500 rupiah per orang dan 5000 rupiah per kamera. Tujuan dibuat murah agar menarik turis domestik datang ke Pulau Rinca karena statistik menunjukkan turis mancanegara lah yang mendominasi kunjungan ke pulau ini. Jangan lupa tips untuk ranger juga dibayar di awal 50 ribu per ranger.</p>
<div id="attachment_1865"><a href="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/cam00620.jpg"><img title="murahnyooo :D" src="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/cam00620.jpg?w=397&amp;h=298" alt="murahnyooo :D" width="397" height="298" /></a><span style="text-decoration: underline;"><em>murahnyooo</em></span> <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif?m=1129645325g" alt=":D" /></p>
</div>
<p>Dalam acara berkeliling pulau Rinca, ada 3 pilihan track yang bisa dipilih. Short track, medium track, dan long track. Menurut pak ranger berkacamata hitam, mau memilih track mana pun, peluang untuk melihat komodo sama saja. Tergantung keberuntungan kita. Katanya pernah ada bule milih long track, tapi cuma ketemu beberapa komodo saja dengan adegan yang biasa saja. Dan pak ranger juga gak nanyain kami mau yang mana. Dia langsung memutuskan kami untuk melakukan short track.</p>
<p>“Lho? Kenapa, Pak?” padahal kami juga udah tekad dari awal mau ambil short track. Nanya begitu cuma buat gaya doang biar dikira mau ambil long track.</p>
<p>“Karena Mbak, Mbak ini pake sandal.”</p>
<p>Oh yeah, kami adalah jepiters. Dari awal di Maumere sampai sekarang, sandal jepit abu-abuku yang menjadi alas kaki. Tak pernah terganti. Dan kami cengengesan. Hehehe.</p>
<p>Seperti prosedur yang ada, pak ranger selalu bertanya siapa di antara wanita ini yang sedang mengangkat bendera. Maksudnya lagi menstruasi. FYI, komodo dapat mencium bau darah hingga jarak 5 km. Bayangin aja kalo kalian yang lagi mens jalan di Pulau Rinca sendirian. Ya bisa jadi santapan segar buat komodo dong. Dan salah satu anggota jelajah Flores ini ada yang lagi mens, jadi dia harus deket-deket sama Pak Pei. Bukan deket yang aneh-aneh lho. (iyain aja biar cepet)</p>
<p>Begitu sampai di kompleks rumah para penghuni pulau Rinca alias bapak-bapak yang kerja di sini, kami disambut oleh tiga komodo yang bersantai di bawah rumah.</p>
<p>“Sekarang kita sedang melihat komodo. Komodo ini termasuk hewan yang munafik. Kelihatannya aja dia diam, santai, tak bertenaga karena badan yang besar, padahal dia sedang mencari mangsa. Nanti kalo dia sudah ketemu mangsa, langsung keganasannya tampak. Dia bisa berlari hingga 18 km/jam.”</p>
<p>Jadi, kalo kalian ketemu cowok munafik, kasih dia kode KOMODO.</p>
<p>“Komodo yang ini (sambil menunjuk ke satu komodo) sedang sakit. Tangannya patah sejak 3 tahun yang lalu saat perkelahian merebutkan betina. Jadi komodo ini jenis kelaminnya jantan. Tak hanya tangannya yang patah, tapi hatinya pun ikut patah. Hampir sepanjang hari dia hanya berdiam di situ.”</p>
<p>Ooh, kasian om komodo ini. Sini aku jodohin ama @noichil. Puk-puk.</p>
<div id="attachment_1866"><a href="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/img_1724.jpg"><img title="tangannya patah, hatinya juga patah. Tos dulu, Om?!" src="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/img_1724.jpg?w=434&amp;h=289" alt="tangannya patah, hatinya juga patah. Tos dulu, Om?!" width="434" height="289" /></a><span style="text-decoration: underline;"><em>tangannya patah, hatinya juga patah. Tos dulu, Om?!</em></span></p>
</div>
<p>“Ada yang tau gak kenapa komodo ini pada gerombol di sini? Kok gak ke rumah yang lain?”</p>
<p>“Karena itu dapur, Pak!” jawabku dengan tegas dan mantap.</p>
<p>“Wah, 100 buat Mbak. Seperti yang sudah saya jelaskan tadi, komodo bisa mencium bau makanan dari jarak jauh. Nah, di dapur mereka selalu berkumpul karena mencium bau makanan. Tapi kami di sini gak bakal pernah memberi mereka makan gratis. Karena kalo dikasih dengan cuma-cuma, insting berburu mereka bakal luntur, mereka bakal manja.”</p>
<p>Yaelah komodo, jangan ngarep gratisan deh. Pipis aja sekarang bayar, Do, Do.</p>
<p>Puas berfoto dengan komodo patah hati, kami melanjutkan trekking. Kami dibawa mendaki ke sebuah bukit yang nanti dari atas bukit bisa melihat view yang bagus banget. Sayangnya panas, jadi gak betah lama-lama di sini. Dan sayangnya lagi, belum terlihat komodo yang lalu lalang.</p>
<p>Kami dibawa ke sarang telur komodo. Sarang yang paling dekat dengan jalur trekking.</p>
<p>“Nanti setelah 1-2 bulan kawin, komodo bakal bertelur. Telur tadi bakal disimpan di dalam lubang. Sekali lagi, komodo itu munafik dan tak setia. Hanya 3 bulan pertama, induk komodo bakal nungguin telurnya. Tapi setelah itu, dia bagaikan ibu tiri.”</p>
<p>Jeng.. Jeng..</p>
<p>“9 bulan kemudian, telur itu menetas. Keluarlah bayi komodo. Bayi-bayi ini harus langsung menyelamatkan diri mereka dengan cara memanjat pohon. Secepatnya. Karena di luar sarang tadi, sudah menanti dengan kelaparan para komodo besar termasuk induknya sendiri untuk menyantap bayi-bayi komodo. Komodo sudah munafik, tak setia, kanibal pula.”</p>
<p>Pih buat komodo.</p>
<p>Setelah bertanya ini itu pada pak ranger, kami kembali ke depan. Titik terakhir short track adalah sarung telur komodo. Untungnya jalan kembali tak sama seperti jalan datang. And lucky us, we met baby komodo! YIHAAA!</p>
<div id="attachment_1867"><a href="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/img_1777.jpg"><img title="oh, bayi komodo sudah bisa jalan sendiri *mata berbinar-binar*" src="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/img_1777.jpg?w=496&amp;h=330" alt="oh, anak komodo sudah bisa jalan *mata berbinar-binar*" width="496" height="330" /></a><span style="text-decoration: underline;"><em>oh, bayi komodo sudah bisa jalan sendiri *mata berbinar-binar*</em></span></p>
</div>
<p>Bayi komodo ini diperkirakan usianya 1,5 tahun. Dia bahkan ada di tanah. Bukan lagi di pohon. Dia mengangkat kepalanya seperti meresapi sinar matahari yang menimpa tubuh kecilnya. Dan dia berjalan lenggak-lenggok di depan kami dengan jarak yang sangat dekat. Kyaaa, we are so excited!</p>
<p>Kami kembali menuju dapur dan mendapatkan personil komodo di depan nambah satu. Kesalahan salah satu anggota kami adalah mengibas-ngibaskan payung. Pak ranger langsung mendelik ke arah kami.</p>
<p>“Mbak, kok payungnya dikibas gitu?”</p>
<p>Oh oooww, komodo sangat sensitif dengan gerakan. Dan hasilnya, komodo yang tadinya diam, dia mulai bergerak ke arah kami dan pak ranger langsung berseru, “cepet pindah ke arah sana. Jangan lari. Jalan biasa aja. Komodo sensitive dengan gerakan.”</p>
<p>Waduh, kami panik. Om komodo tadi bisa bisanya langsung menuju ke arah kibasan payung. Pak ranger langsung menyorongkan tongkat yang bercabang di ujungnya pada komodo. Dan komodo tadi berhenti, kembali merebahkan tubuhnya di tanah. Fiuh.</p>
<p>Ternyata sudah 1 jam kami berada di Pulau Rinca, tandanya harus segera pindah lokasi biar jadwal yang disusun bisa terlaksana.</p>
<p>See you, Komodo. Hope we’ll meet again in our next meeting <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif?m=1129645325g" alt=":D" /></p>
<div id="attachment_1869"><a href="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/img_1799.jpg"><img title="annhyeong Om Komodo kuruuuss (–,)/" src="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/img_1799.jpg?w=446&amp;h=297" alt="annhyeong Om Komodo kuruuuss (--,)/" width="446" height="297" /></a><span style="text-decoration: underline;"><em>annhyeong Om Komodo kuruuuss (–,)/</em></span></p>
</div>
<p><strong>Pulau Padar</strong></p>
<p>Kata Papa Anang, pantai di pulau ini lebih luas ketimbang Pink Beach. Dan kami bisa bersnorkeling ria. Di pulau ini, kami menemukan rusa yang jinak yang seneng dikasih biskuit yang manis. Kami bergantian ngasih biskuit ke rusa yang lagi santai di depan rumah penjaga pulau.</p>
<p>Berjalan di pinggir pantai ini membuat kami kecewa. Sampah bertebaran di mana-mana. Ya bener sih pasirnya warna pink, tapi kalo banyak sampahnya kan jadi jelek. Udah gitu pas kita udah nyebur, kami gak liat karang ato ikan. Dan kata pak penjaga pulau, kalo snorkeling di Pink Beach bukan di sini. Aaak, Papa Anang boong ( T-T). Etapi kalo inget arus di Pink Beach lagi kenceng, kita juga takut kok. Next time deh ya ke Pink Beach ama suami (doain cepet ketemu suaminya dulu!)</p>
<div id="attachment_1871"><a href="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/dscn1262.jpg"><img title="pasirnya pink, lautnya bening, langitnya biru, tapi pantainya kotor T~T" src="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/dscn1262.jpg?w=434&amp;h=326" alt="pasirnya pink, lautnya bening, langitnya biru, tapi pantainya kotor T~T" width="434" height="326" /></a><span style="text-decoration: underline;"><em>pasirnya pink, lautnya bening, langitnya biru, tapi pantainya kotor T~T</em></span></p>
</div>
<p><strong>Manta Point</strong></p>
<p>Yang kutau manta itu pari raksasa. Tapi ternyata beda lho antara pari dengan manta. Manta ukurannya lebih besar daripada pari, ekornya pendek dan dia gak punya racun. Kalo pari ukurannya lebih kecil, ekornya panjaaang, dan beracun.</p>
<p>Baru aja kapal berhenti di tengah lautan, Papa Anang udah teriak, “itu mantanya!”</p>
<p>Kami langsung menoleh ke air dan menyaksikan manta sedang berenang di dasar lautan yang tampak jernih sekali. Kami juga langsung tergesa-gesa pake pelampung, snorkel. Saking hebohnya pengen cepet liat manta, lupa gak pake fin. Arusnya lagi kenceng padahal. Dan bener aja, pas mau balik ke kapal buat ambil fin, gak kuat nglawan arus dan ditarik papa Anang deh. Huehehe.</p>
<p>Karena arus yang makin kencang, kami yang nyebur ke laut pegangan sama tali di kapal trus kapalnya deh yang muter-muter. Lumayan, hemat energi. Kami berhasil melihat manta yang sliweran dan juga ikan pari yang lagi sembunyi di pasir dasar laut. Hihihi. Sayang beribu sayang, kamera underwater pinjeman kami nampaknya rusak. Karena udah gak bisa dipake lagi. Hiks. Jadi gak ada dokumentasi si manta ma pari <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif?m=1129645325g" alt=":(" /></p>
<p>But, if you come here, you must visit Manta Point and be patient to see it. Ada kapal lain yang datang setelah kami semua puas melihat manta dan kapal tadi langsung berbalik arah karena gak ketemu manta dan arusnya makin gila. Hihihi. We are lucky again ^^</p>
<p><strong>Gili Lawa</strong></p>
<p>Di atas bukit Gili Lawa ini nanti kami bakal melihat sunset yang indah. Di atas bukit yang berarti mendaki lagi. Hadeeh. Sebelum mendaki, Papa Anang memberi kami 1 jam untuk berenang dan snorkeling di sini. And yes, we got perfect sea with many kind of coral and fish. Ikannya banyak, karangnya bagus. Pokoke manteb renang di sini. Kedalamannya pun cuma 2-3 meter udah bisa melihat yang bagus-bagus. Aaak!</p>
<p>Papa Anang sudah memanggil kami untuk segera menepi. Kami segera berenang ke tepian dan melepaskan semua peralatan snorkeling. Sepiring pisang goreng panas tersaji di pinggir pantai dan langsung kami lahap habis buat energi mendaki ke bukit.</p>
<p>Dengan tertatih dan beberapa kali berhenti setelah mendaki jalan yang begitu menakutkan. Di tempat tertentu yang sangat curam, aku merangkak kayak bayi. Inilah yang kami dapat dari atas bukit. So perfect!</p>
<div id="attachment_1873"><a href="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/img_1984.jpg"><img title="subhanallah." src="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/img_1984.jpg?w=496&amp;h=330" alt="subhanallah." width="496" height="330" /></a><span style="text-decoration: underline;"><em>subhanallah.</em></span></p>
</div>
<div id="attachment_1874"><a href="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/img_1593.jpg"><img title="senja merona :”&gt;" src="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/img_1593.jpg?w=496&amp;h=372" alt="senja merona :&quot;&gt;" width="496" height="372" /></a><span style="text-decoration: underline;"><em>senja merona :”&gt;</em></span></p>
</div>
<p>Jadi, kalian juga mesti datang ke Gili Lawa buat snorkeling dan menyaksikan keindahan pulau Komodo dan sekitarnya yang tetanggaan sama Gili Lawa. Rasa capek kalian pas mendaki bakal terbayar di sini. Meskipun pulangnya kami jadi kayak perosotan di tanah sambil pegangan rumput di pinggir. Sakit yang menyenangkan.</p>
<p>Dan di atas perairan Gili Lawa, kami parkir. Di atas air sini, aku tertawa karena menang terus main poker dan kemudian di atas matras mau tidur meratapi kepingan hati yang hancur setelah dihancurkan oleh sang pematah hati.</p>
<p><strong>Pulau Sebayur</strong></p>
<div><a href="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/wpid-img_2026.jpg"><img title="Sebayur island" src="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/wpid-img_2026.jpg?w=620" alt="image" width="450" height="300" /></a><span style="text-decoration: underline;"><em>Sebayur island</em></span></p>
</div>
<p>Pagi sekali, kapal sudah dinyalakan dan bergerak. Papa Anang akan membawa kami ke pulau Sebayur buat snorkeling lagi. Ini ya, lautnya bener-bener jerniiiih. Ikan yang seliweran udah kelihatan dari atas kapal. Dikasih remahan biskuit, mereka pada datang. Dan di sini kami beraksi loncat dari atas kapal. Bahahaks.</p>
<p>Sayang sekali karang di sini banyak yang mati karena kena jangkar perahu. Yang gak mati cuma sedikit dengan warna yang tak terlalu menarik. Kasian deh pokoknya karang yang ada di sini. Hiks.</p>
<p>Pulau Sebayur juga menawarkan resort atau bungalow. Tapi harganya di sini cukup fantastis. 900 ribu per orang! Dan menurut Papa Anang, ada honeymoon room yang ditawarkan. Nanti kamarnya bakal dihias dengan ribuan bunga mawar merah dan view pantai yang cantik. Adudududuu, nanti aku ke sana sama suamiku deh. Amiiin!</p>
<p><strong>Pulau Kanawa</strong></p>
<p>Inilah destinasi terakhir kami, tempat berpisah dengan @aprilianayu dan Ridwan yang akan kembali ke Labuan Bajo.</p>
<p>Pulau Kanawa, sebuah pulau privat yang menyediakan penginapan berupa tenda dan bungalow yang tentunya harus dibooking dulu mengingat jumlahnya yang tak banyak. Kami berlima memilih menginap di tenda dengan rate 125 ribu untuk 1 orang dan 175 ribu untuk 2 orang (belum termasuk pajak). Di pulau ini tidak tersedia air tawar, jadi harus hemat buat mandi di kamar mandi umum karena yang nginap di sini kan gak cuma kami aja.</p>
<p>Aku sangat suka dengan ketenangan dan kedamaian di Pulau Kanawa ini. Cuma badanku udah gak bisa kompromi selama ada di Pulau Kanawa. Aku terserang dizziness, rasanya kayak masih di kapal padahal udah di daratan. Udah minum obat tapi tetep aja rasanya pusing.</p>
<p>Sore hari waktu yang cocok buat snorkeling, tapi kami memilih tempat yang salah buat snorkeling. Harusnya di sebelah utara dermaga baru, tapi kami malah ke arah selatan. Jadi cuma ketemu alang-alang laut lagi deh. Tempat yang bagus buat liat sunset adalah naik ke atas bukit. Dan aku absen naik ke bukit karena badan yang gak enak ini.</p>
<p>Malam hari kami makan di the only one restaurant in Kanawa. Tips makan di sini, pesanlah menu makan malam jam 5 sore, kemudian jam 6 kembali ke sana dan siap menyantap makan. Kami baru datang jam 7 dan makanan kami baru datang jam 8.30. Udah mau pingsan rasanya nahan lapar sama dizziness.</p>
<div id="attachment_1875"><a href="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/img_1663.jpg"><img title="Good morning from Kanawa" src="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/img_1663.jpg?w=496&amp;h=372" alt="Good morning from Kanawa" width="496" height="372" /></a><span style="text-decoration: underline;"><em>Good morning from Kanawa</em></span></p>
</div>
<p>Pagi hari, kalian bisa jalan di pinggir pantai karena bisa melihat anak hiu berenang dengan gembira. Hiunya jenis hiu karang, jadi gak bahaya. Dan pulang dari lihat hiu, segera kemasi barang dulu sebelum sarapan. Karena kapal yang membawa kami ke Labuan Bajo berlayar jam 8. Naik kapal ini gratis karena sudah termasuk dari harga tenda yang kami sewa.</p>
<p><strong>Labuan Bajo</strong></p>
<p>30 Maret 2013.</p>
<p>Sebelum kami kembali ke Kupang, kami menyempatkan diri main di Gua Cermin. Sebenarnya bisa masuk ke dalam guanya tapi pake guide. Kalo sendirian, bisa ketemu kelelawar ato lipan. Hih, ngeri. Dan jangan lupa buat mampir ke Exotic buat belanja oleh-oleh. Harganya emang lumayan mahal buat kaos bergambar komodo tapi pilihan gambar dan warnanya banyak banget. Dijamin nyesel kalo gak beli di sini. Hohoho.</p>
<p>***</p>
<p>Dan itulah akhir dari perjalanan jelajah Flores kami. Dimulai tanggal 23 Maret dan berakhir tanggal 30 Maret. Semua rasa campur aduk jadi satu. Meskipun badan jadi sakit semua, aku tetep seneng bisa menjejakkan kaki di Flores.</p>
<p>Kalo ditanya, mana yang paling berkesan buatku, aku bakal jawab Labuan Bajo dan pulau-pulau di sekitarnya. Dan pulau yang paling pengen aku datangi lagi kalo nanti bisa berkesempatan kembali adalah Pulau Kanawa dan pulau Bidadari. Tak lupa juga pengen tahu Pink Beach. Kabupaten Manggarai Barat menyimpan berjuta kesempurnaan di dalamnya. Aku yakin, kalian yang sudah memasukkan Labuan Bajo sebagai tujuan traveling gak bakal nyesel. Malah kepengen balik lagi kayak aku. Dan aku sangat merekomendasikan kalian buat datang ke tempat ini.</p>
<p>Saranku buat yang mau Trans Flores, mulailah dari Larantuka atau Maumere dan berakhir di Labuan Bajo. Like Ujang said, Labuan Bajo is the best part in Flores. Dan kalian bisa memilih @Tukang_Jalan buat partner trip kalian. Dijamin murah dan mantep deh. Nah, pas nanti di Riung, minta Bapak Duking buat jadi guide kalian. Orangnya ramah dan baiiik banget. Hubungi Om Tukang Jalan di <a href="http://www.tukangjalan.com/">www.tukangjalan.com</a> atau no hape 085810697553. Kalo manggil harus Om ya, soalnya umurnya udaaa …. *dikepret karet*</p>
<p>Ato yang mau backpacker sendiri ke Riung dan keliling wisata 17 pulau, bisa kontak Pak Duking di 081353863922</p>
<p>Trus kapal yang buat membawa keliling Labuan Bajo dan destinasi lain, silahkan hubungi Papa Anang di 082145704054. Servis kapal yang sangat memuaskan dan murah, masakannya sekelas restoran, dan orangnya super duper baik banget kayak malaikat!</p>
<p>Sekaligus, minta doanya ya para pembaca setia blog ini. Karena Mbak Anggi, si manager resort Kanawa menawarkan sebuah kerja sama di bulan Agustus nanti dengan transport dan akomodasi ditanggung penuh. Semoga niatan baiknya Mbak Anggi terlaksana dan bisa bawa Retha kembali ke Kanawa. Amin, Amin, Amin ya Rabb.</p>
<p>Banyak terima kasih buat @aninouz, akhirnya kita nemu banyak orang buat trans Flores ya, buat @aprilianayu, kameramu juara, fotonya mantap menghiasi  blogku, buat @dzadvena, jagain Bukapiting biar tetap damai, buat @risangpermana dan Ridwan, kalian baik sekali dan moga2 kita bisa traveling bareng lagi, dan buat Tya, ayuk kita ambil license diving PADI \o/</p>
<p>Terima kasih buat semua yang udah setia baca potongan cerita Jelajah Flores part <a href="http://wp.me/p1BbDW-rL">1</a>, <a href="http://wp.me/p1BbDW-se">2</a>, <a href="http://wp.me/p1BbDW-sB">3</a>, dan 4. Bakal ada kuis buat kalian pecinta kartu pos yang pengen dapetin kartu pos edisi Flores. Itu pun kalo ada yang mau. Ahak ahak.</p>
<div><a href="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/wpid-img-20130411-01361.jpg"><img title="Dipilih, dipilih, dipilih kartu posnya :)" src="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/wpid-img-20130411-01361.jpg?w=620" alt="image" width="440" height="311" /></a><span style="text-decoration: underline;"><em>Dipilih, dipilih, dipilih kartu posnya</em></span> <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1129645325g" alt=":)" /></p>
</div>
<p>Ditunggu animo pembaca dan pecinta kartu pos sekalian di komen postingan ini. Dan kudoakan buat semua yang baca potongan cerita ini suatu hari nanti bisa menjejakkan kaki di tanah Flores. Kutunggu jelajah Flores versimu :*</p>
<div><a href="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/wpid-dscn1237.jpg"><img title="Sampai ketemu di petualangan Retha di lain tempat ^^" src="http://primariayu.files.wordpress.com/2013/04/wpid-dscn1237.jpg?w=620" alt="Sampai ketemu di petualangan Retha di lain tempat ^^" width="460" height="345" /></a><span style="text-decoration: underline;"><em>Sampai ketemu di petualangan Retha di lain tempat ^^</em></span></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tukangjalan.com/jelajah-flores-final-part-sempurna/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dieng, Keindahan yang Berselimut Mistis</title>
		<link>http://www.tukangjalan.com/cerita-dieng/</link>
		<comments>http://www.tukangjalan.com/cerita-dieng/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Jan 2013 13:11:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webadmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review Stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tukangjalan.com/?p=13730</guid>
		<description><![CDATA[Dieng, Minggu pukul 00:00
“AAAARRRGGGGGHHHHH!!!!”
“TOLOOONNGGGGGG!!! TOLOOOONGGGGGGGG!!!”
“IBUUUUUU AMBILKAN BULAN BUUUU!!”
Jeritan Bombom sontak membuat kami yang sedang tidur di ruang tengah tersadar, tak ada angin tak ada hujan tak ada ojek tiba-tiba dia menjerit bak orang kesurupan di Dunia Lain. Sayang waktu itu tak ada kamera di ruangan berukuran ... ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1><span style="text-decoration: underline;"><strong>Dieng, Minggu pukul 00:00</strong></span></h1>
<p>“AAAARRRGGGGGHHHHH!!!!”</p>
<p>“TOLOOONNGGGGGG!!! TOLOOOONGGGGGGGG!!!”</p>
<p>“IBUUUUUU <del>AMBILKAN BULAN BUUUU</del>!!”</p>
<p>Jeritan Bombom sontak membuat kami yang sedang tidur di ruang tengah tersadar, tak ada angin tak ada hujan tak ada ojek tiba-tiba dia menjerit bak orang kesurupan di Dunia Lain. Sayang waktu itu tak ada kamera di ruangan berukuran 5x3meter tersebut, sehingga kami tak dapat melambaikan tangan ke kamera.</p>
<h1><strong><br />
<span style="text-decoration: underline;">Dieng, Sabtu pukul 22:00</span></strong></h1>
<p>“Tadi katanya ada orang kesurupan setelah sembahyang di Candi.”</p>
<p>Kalimat saya sekaligus mengganti topik obrolan 3 orang remaja yang sudah memasuki bab wanita dan semua (hal yang selalu dan pasti dijadikan) permasalahannya.</p>
<p>“Ah, serius lu?”</p>
<p>“Iya, ngapain juga gue bohong. Ga bakal bikin barang (hidung, bukan barang yang lain. -red) panjang juga.”</p>
<p>“Kok bisa kesurupan sih?”</p>
<p>“Ya mungkin gara-gara ga sopan di tempat-tempat suci mungkin. Kayak candi dan gua keramat itu kan tempat-tempat yang ga boleh diperlakukan sembarangan. Oiya, tadi kayaknya gue lihat lu foto-foto di candi sama di deket pohon dengan pose aneh-aneh ya Bom?”</p>
<p>“…”</p>
<p>Bombom terdiam.</p>
<p>***</p>
<h1><strong><br />
<span style="text-decoration: underline;"> Jakarta, Jumat pukul 21:00</span></strong></h1>
<p>Rombongan <a href="http://twitter.com/Tukang_Jalan" target="_blank">@Tukang_Jalan</a> berangkat menuju Dieng dari Plaza Semanggi, dengan menunggangi beberapa ELF yang pasrah ditunggangi. #halah *semoga tak ada fans Suju yang baca* Perjalanan yang diperkirakan menempuh waktu sekitar 10 jam ini berhenti di beberapa <em>rest area</em> dan <em>pee stop</em>, tentunya untuk beristirahat dan berpipis ria.</p>
<p>Berdasarkan hasil googling, nama <em>Dieng</em> berasal dari gabungan dua kata bahasa Sunda Kuna: “di” yang berarti “tempat” atau “gunung” dan “Hyang” yang bermakna “Dewa”. Dengan demikian, Dieng berarti daerah pegunungan tempat para dewa dan dewi bersemayam. Kenapa bahasa Sunda, padahal Dieng ada di Jawa Tengah? Karena diperkirakan pada masa pra-Medang 600, daerah itu berada dalam pengaruh politik Kerajaan Galuh. Hmm.. #okesip</p>
<h1><strong><br />
<span style="text-decoration: underline;">Dieng, Sabtu pukul 10:00</span></strong></h1>
<p>Setelah sarapan di <em>By New Must</em> (Baca: Banyumas), rombongan pun tiba di Dieng dengan selamat dan langsung menuju gardu pandang untuk menikmati keindahan alam dari ketinggian. Gunung (baik yang alami maupun “yang lain”), sawah, hingga  rumah-rumah penduduk yang membentang di kejauhan menghasilkan suatu komposisi yang indah. Jauh lebih indah daripada senyum bapak kamu, ketika saya <em>ngapel </em>untuk pertama kalinya. Setelah saya hitung-hitung sambil tengok kanan-kiri, ternyata Gardu Pandang ini berada di ketinggian ± 1.789 meter di atas permukaan laut.</p>
<div id="attachment_582"><a href="http://backpackstory.files.wordpress.com/2012/05/dscn1981.jpg"><img class="alignnone" title="Gunung asli" src="http://backpackstory.files.wordpress.com/2012/05/dscn1981.jpg?w=368&amp;h=277" alt="" width="368" height="277" /></a></div>
<div style="text-align: left;"></div>
<div style="text-align: left;">View dari gardu pandang, sekitar 1.789 meter di atas permukaan laut.</div>
<div></div>
<div></div>
<div id="attachment_584"><a href="http://backpackstory.files.wordpress.com/2012/05/dscn1983.jpg"><img class="alignnone" title="Pemetik kentang" src="http://backpackstory.files.wordpress.com/2012/05/dscn1983.jpg?w=368&amp;h=277" alt="" width="368" height="277" /></a></div>
<div></div>
<div style="text-align: left;">Pekerja di ketinggian</div>
<div style="text-align: left;"></div>
<div id="attachment_583" style="text-align: center;"><a href="http://backpackstory.files.wordpress.com/2012/05/dscn1986.jpg"><img class="alignnone" title="Gunung alami, dan &quot;gunung-gunung lain&quot;" src="http://backpackstory.files.wordpress.com/2012/05/dscn1986.jpg?w=368&amp;h=277" alt="" width="368" height="277" /></a></div>
<div style="text-align: center;"></div>
<div style="text-align: center;">Cheese!</div>
<div style="text-align: center;"></div>
<p>Selepas <em>check-in</em> dan makan siang di <em>homestay </em>yang telah dipersiapkan oleh tim<em> </em><a href="http://twitter.com/Tukang_Jalan" target="_blank">@Tukang_Jalan</a>, kami pun mengunjungi beberapa objek wisata yang berada di Dataran Tinggi Dieng, di antaranya adalah:</p>
<h4><span style="text-decoration: underline;">1. Komplek Candi Arjuna</span></h4>
<p>Komplek Candi Hindu ini adalah yang terluas di Dieng, yang terdiri dari beberapa candi. Sayangnya hanya beberapa candi yang masih utuh, sementara lainnya sudah rapuh terkena cuaca dan <em>osteoporosis</em>. Hal positif dari komplek candi ini adalah lingkungannya yang bersih dan asri.  Menurut saya, Komplek Candi Arjuna ini merupakan komplek candi paling rapi di Indonesia (walaupun tak pakai behel).</p>
<p>Saat kami berkunjung ke sana, sedang berlangsung ibadah bagi para penganut agama Hindu.  Hal tersebut tentunya tak luput dari jepretan kamera beberapa pengunjung yang berprinsip “Jangan sampai ibadah mengganggu kesenangan memotret”. Ups. Yang perlu diingat dari Komplek Candi Arjuna adalah, walaupun menggunakan nama-nama Pandawa Lima sebagai nama candi namun tidak ditemukan nama Candi Ahmad Dhani atau Candi Ari Lasso di sana.</p>
<p>Satu hal lain yang menarik perhatian saya, hari itu saya bertemu dengan beberapa pengunjung yang ingin melakukan ritual pertapaan sekaligus uji nyali di candi ini pada malam harinya. Huwow!</p>
<div id="attachment_586" style="text-align: center;"><a href="http://backpackstory.files.wordpress.com/2012/05/dscn2015.jpg"><img class="aligncenter" title="Komplek Candi Arjuna" src="http://backpackstory.files.wordpress.com/2012/05/dscn2015.jpg?w=368&amp;h=277" alt="" width="368" height="277" /></a></div>
<div style="text-align: center;"></div>
<div style="text-align: center;">Komplek Candi Arjuna</div>
<div style="text-align: center;"></div>
<div style="text-align: center;"></div>
<div id="attachment_585" style="text-align: center;"><a href="http://backpackstory.files.wordpress.com/2012/05/dscn2026.jpg"><img class="aligncenter" title="Candi Arjuna" src="http://backpackstory.files.wordpress.com/2012/05/dscn2026.jpg?w=368&amp;h=277" alt="" width="368" height="277" /></a></div>
<div style="text-align: center;"></div>
<div style="text-align: center;">Candi Arjuna</div>
<div style="text-align: center;"></div>
<div style="text-align: center;"></div>
<div id="attachment_589" style="text-align: center;"><a href="http://backpackstory.files.wordpress.com/2012/05/dscn2031.jpg"><img class="aligncenter" title="Sembahyang di Candi Arjuna" src="http://backpackstory.files.wordpress.com/2012/05/dscn2031.jpg?w=368&amp;h=277" alt="" width="368" height="277" /></a></div>
<div style="text-align: center;"></div>
<div style="text-align: center;">Sembahyang</div>
<div style="text-align: center;"></div>
<h4>2. Kawah Sikidang</h4>
<p>“Dimohon tidak terlalu dekat dengan bibir kawah.” Itulah peringatan yang kami dapat ketika memasuki halaman kawah Sikidang. Bau belerang dan asap tebal menyambut kehadiran kami di sana. Kawah Sikidang ini merupakan sebuah kolam belerang yang mungkin hanya berdiameter sekitar 20 meter, dan selalu menyembulkan asap seperti perokok akut. Di sini, saya berpikiran bahwa peribahasa “Di mana ada asap, di situ ada api.” adalah salah.</p>
<p>Di dekat kolam belerang, ada bukit kecil yang bisa dipanjat dan katanya view dari atas bukit lebih bagus daripada di dalam bukit. #yaiyalah Dengan semangat 69, beberapa orang mencoba menaiki bukit tersebut dan ternyata memang benar bahwa <em>view</em> di atas bukit tersebut <em>Subhanallah</em> indahnya. Di jalan keluar setelah kolam belerang, saya menemukan penjual bijih belerang yang berkata bahwa belerang bisa menyembuhkan beberapa penyakit kulit. Sayang dia tak menyebutkan kalau belerang bisa membuat enteng jodoh, sehingga saya pun hanya berlalu.</p>
<p>FYI, di kawah ini kamu bisa kentut sembarangan dan tak akan ada orang yang menyadarinya. Menarik, bukan?</p>
<div id="attachment_597"><a href="http://backpackstory.files.wordpress.com/2012/05/dscn2053.jpg"><img title="Kawah Sikidang" src="http://backpackstory.files.wordpress.com/2012/05/dscn2053.jpg?w=368&amp;h=277" alt="" width="368" height="277" /></a></div>
<div></div>
<div>Dimohon tidak terlalu dekat dengan bibir!</div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div id="attachment_594"><a href="http://backpackstory.files.wordpress.com/2012/05/dscn2063.jpg"><img title="Kawah Sikidang dari atas" src="http://backpackstory.files.wordpress.com/2012/05/dscn2063.jpg?w=368&amp;h=277" alt="" width="368" height="277" /></a></div>
<div></div>
<div>View from the top</div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div id="attachment_591"><a href="http://backpackstory.files.wordpress.com/2012/05/dscn2048.jpg"><img title="Bebi maluuuu" src="http://backpackstory.files.wordpress.com/2012/05/dscn2048.jpg?w=248&amp;h=331" alt="" width="248" height="331" /></a></div>
<div></div>
<div>Gadis penjual belerang</div>
<div></div>
<h4>3. Dieng Plateau Theater dan Telaga Warna</h4>
<p>Kalau Jakarta punya IMAX, maka Dieng punya apa yang dinamakan “Dieng Plateau Theater”. Sebuah tempat menonton film, dengan kualitas Cinema 21 rayon Jawa Tengah. Hari itu, film yang diputar adalah “Asal-usul dan Sejarah Terbentuknya Dieng”. Kurang lebih ceritanya adalah seperti ini: Dahulu kala, terjadi gempa vulkanik di sebuah gunung lalu … saya tertidur.</p>
<div id="attachment_595"><a href="http://backpackstory.files.wordpress.com/2012/05/dscn2081.jpg"><img title="Dieng Plateau Theater" src="http://backpackstory.files.wordpress.com/2012/05/dscn2081.jpg?w=368&amp;h=277" alt="" width="368" height="277" /></a></div>
<div></div>
<div>Cinema 21-nya penduduk Dieng</div>
<div></div>
<p>Tak jauh dari Dieng Plateau Theater, terdapat sebuah telaga yang katanya merupakan tempat wisata terpopuler di Dieng versi On The Spot. Namanya adalah Telaga Warna, dinamakan demikian karena warna airnya dapat berubah sesuai dengan pantulan cahaya matahari. Di kawasan Telaga Warna ini juga terdapat beberapa <em>spot</em> turisme lain seperti Telaga Pengilon, yang bisa digunakan untuk bercermin dan Gua Semar, yang konon pernah digunakan sebagai tempat pertapaan Mantan Presiden Soeharto dan Mantan Wakil Presiden Tri Sutrisno. Lalu SBY mana? Mungkin sedang <del>bertapa</del> karaoke di Inul Vizta. Oh iya, untuk memasuki Gua Semar tidak dapat dilakukan sembarangan karena ada syarat dan ketentuan yang berlaku. Di antaranya adalah harus didampingi juru kunci, dan sepeda motor dilarang masuk.</p>
<div id="attachment_592"><a href="http://www.tukangjalan.com/wp-content/uploads/2013/01/dscn2086.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-13739" title="dscn2086" src="http://www.tukangjalan.com/wp-content/uploads/2013/01/dscn2086.jpg" alt="" width="368" height="276" /></a></div>
<div></div>
<div>Tebak ada berapa warna di sini? Ya benar, banyak.</div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div id="attachment_599"><a href="http://backpackstory.files.wordpress.com/2012/05/dscn2106.jpg"><img title="Sesajen" src="http://backpackstory.files.wordpress.com/2012/05/dscn2106.jpg?w=248&amp;h=331" alt="" width="248" height="331" /></a></div>
<div></div>
<div>Persembahan di telaga</div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div id="attachment_598"><a href="http://backpackstory.files.wordpress.com/2012/05/dscn2092.jpg"><img title="Kayang!" src="http://backpackstory.files.wordpress.com/2012/05/dscn2092.jpg?w=368&amp;h=277" alt="" width="368" height="277" /></a></div>
<div></div>
<div>Don’t try this at home, try it here!</div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div id="attachment_600"><a href="http://backpackstory.files.wordpress.com/2012/05/dscn2111.jpg"><img title="Gua Semar" src="http://backpackstory.files.wordpress.com/2012/05/dscn2111.jpg?w=248&amp;h=331" alt="" width="248" height="331" /></a></div>
<div></div>
<div>Mari-mari sini *a la boneka kucing Cina*</div>
<p>&nbsp;</p>
<h4>4. Kedai Makanan Khas Dieng</h4>
<p>Seperti halnya Arab Saudi dan Afghanistan, Dieng juga memiliki beberapa makanan dan minuman khas. Diantaranya adalah:</p>
<ul>
<li>Carica, merupakan buah yang pohonnya mirip pepaya namun dengan ukuran buah yang lebih kecil. Pohonnya mirip lidah <em>playboy</em>, yaitu bercabang. Carica biasa disajikan dalam bentuk manisan dalam botol. Harga sebotol kurang lebih Rp. 10.000,- Uniknya, di Indonesia sebagian besar pohon Carica hanya tumbuh di dataran tinggi Dieng.</li>
<li>Kentang Goreng, yang oleh orang Jawa disebut juga <em>French Fries</em>. Disajikan dengan taburan keju, bubuk cabai, atau bubuk <em>barbecue</em> sehingga menambah citarasanya. Nyam! Harga mulai Rp. 5.000,- per porsinya.</li>
<li>Jamur Krispy (orang Dieng suka <em>typo</em> kalau nulis), jamur yang digoreng lalu disajikan dengan berbagai rasa. Sama seperti kentang goreng, harga per porsi mulai dari Rp. 5.000,- juga.</li>
<li>Purwaceng, inilah minuman khas yang dijual di Dieng yang dipercaya sebagai <em>viagra</em> tradisional yang dapat meningkatkan stamina pria. Purwaceng berasal dari tumbuhan herbal dari<em> genus</em> <em>Apiaceae</em>, yang dapat disajikan dalam bentuk kopi atau susu. Saat itu, saya tak sempat membeli ataupun bertanya tentang harganya karena saya justru membutuhkan obat lemas, bukan obat kuat.</li>
</ul>
<div id="attachment_596"><a href="http://backpackstory.files.wordpress.com/2012/05/dscn2076.jpg"><img title="Carica" src="http://backpackstory.files.wordpress.com/2012/05/dscn2076.jpg?w=368&amp;h=277" alt="" width="368" height="277" /></a></div>
<div></div>
<div>Belum ke Dieng, kalau belum makan Carica, he he.</div>
<div></div>
<div></div>
<div id="attachment_590"><a href="http://backpackstory.files.wordpress.com/2012/05/dscn2038.jpg"><img title="Kentang Goreng, Kacang Rebus, dan Purwaceng!" src="http://backpackstory.files.wordpress.com/2012/05/dscn2038.jpg?w=368&amp;h=277" alt="" width="368" height="277" /></a></div>
<div></div>
<div>Purwaceng (dijual di dalam botol dan kardus di atas Mie Gelas)</div>
<div></div>
<div></div>
<div id="attachment_593"><a href="http://backpackstory.files.wordpress.com/2012/05/dscn2078.jpg"><img title="Jamur Crispy" src="http://backpackstory.files.wordpress.com/2012/05/dscn2078.jpg?w=368&amp;h=277" alt="" width="368" height="277" /></a></div>
<div></div>
<div>Mushroom, but won’t make you fly.</div>
<p>&nbsp;</p>
<p>Setelah lelah berjalan-jalan seharian, kami menunggangi ELF  (karena tak ada naga terbang) lagi untuk kembali ke <em>home stay</em>  guna makan malam lalu beristirahat. Dan karena suhu yang lumayan dingin (mencapai belasan derajat celsius), kami pun memakai baju hangat seperti jaket dan <em>sweater</em>, mandi dengan air hangat, juga berpelukan dengan … api unggun. Hal yang patut diperhatikan, di sini hampir semua <em>home stay</em> menggunakan bukan nama yang sebenarnya seperti Mawar, Melati, semuanya indah.</p>
<div id="attachment_588"><a href="http://backpackstory.files.wordpress.com/2012/05/dscn2001.jpg"><img title="Home Stay" src="http://backpackstory.files.wordpress.com/2012/05/dscn2001.jpg?w=368&amp;h=277" alt="" width="368" height="277" /></a></div>
<div></div>
<div>Mawar Merah (bukan nama sebenarnya)</div>
<div></div>
<div></div>
<div id="attachment_587"><a href="http://backpackstory.files.wordpress.com/2012/05/dscn1999.jpg"><img title="Jalan kampung" src="http://backpackstory.files.wordpress.com/2012/05/dscn1999.jpg?w=248&amp;h=331" alt="" width="248" height="331" /></a></div>
<div></div>
<div>Jalan menuju Mawar Merah</div>
<h1><strong><br />
<span style="text-decoration: underline;">Dieng, Minggu pukul 00:05</span></strong></h1>
<p>Tepat di puncak teriakan Bombom, saya yang tertidur di dekatnya mulai membuka mata. <del>Mencoba memahami tempatku berlabuh, terdampar di keruhnya satu sisi dunia.</del> Lampu sudah menyala, siapa yang menyalakan lampu ruang tengah? <del>Siapa yang menumbuhkan rindu dalam dada?</del> Samar terlihat, salah seorang peserta <em>trip</em> (sebut saja namanya Mr. X) sedang memegangi kaki Bombom yang merintih kesakitan.</p>
<p>“ADUUHHH SAKIITTTT!!!”</p>
<p>“Udah tenang saja, ini cuma kram karena kedinginan.”</p>
<p>“SAKIITTTTT!!!”</p>
<p>Mr. X mulai memijat kaki Bombom yang mengeras, (kaki kanan, bukan kaki tengah. -red) lalu mengoleskan balsem untuk melunakkan otot yang mengeras. Dalam pikiran <em>innocent</em> saya, kok Purwaceng malah bikin keras bagian lain?</p>
<p>“Udah gapapa kok, lanjutin aja tidurnya.”</p>
<p>Bombom pun terlelap.</p>
<h1><strong><br />
<span style="text-decoration: underline;">Dieng, Minggu pukul 04:00</span></strong></h1>
<p>Pagi-pagi buta, kami sudah dibangunkan oleh sang pemandu yang akan mengantar melihat sunrise di Puncak Sikunir. Perjalanan menuju lembah Sikunir ditempuh dengan menunggangi ELF selama sekitar 30 menit. *maaf ya Fans Suju* Dari dasar Sikunir, kita harus menempuh jalan setapak yang naik sepanjang 800 meter (kata Pemandu) untuk menuju puncaknya. Bagi yang tak biasa berolahraga malam, mungkin perjalanan ini akan terasa cukup berat karena medan yang menanjak dan gelap sepanjang jalan. Setelah kurang lebih mendaki selama 30 menit, sampailah kami di puncaknya. Dan yang bikin kami terkejut adalah: ADA PENJUAL POP MIE DI PUNCAKNYA!</p>
<p><em>Anyway</em>, matahari terbit di puncak Sikunir sangatlah indah. Kalau kata orang, mirip telur mata sapi walaupun kita tahu sapi itu tak bertelur. <em>Enjoy it!</em></p>
<div id="attachment_602"><a href="http://backpackstory.files.wordpress.com/2012/05/dscn2142.jpg"><img title="Sunrise (1)" src="http://backpackstory.files.wordpress.com/2012/05/dscn2142.jpg?w=368&amp;h=277" alt="" width="368" height="277" /></a></div>
<div></div>
<div>Sunrise!</div>
<div></div>
<div></div>
<div id="attachment_603"><a href="http://backpackstory.files.wordpress.com/2012/05/dscn2146.jpg"><img title="Sunrise (2)" src="http://backpackstory.files.wordpress.com/2012/05/dscn2146.jpg?w=368&amp;h=277" alt="" width="368" height="277" /></a></div>
<div></div>
<div>Amazingly beautiful!</div>
<div></div>
<div></div>
<div id="attachment_601"><a href="http://backpackstory.files.wordpress.com/2012/05/dscn2141.jpg"><img title="Katakan Bijiiii!!!" src="http://backpackstory.files.wordpress.com/2012/05/dscn2141.jpg?w=368&amp;h=277" alt="" width="368" height="277" /></a></div>
<div></div>
<div>Bombom (baju putih di bawah, wajah sengaja disamarkan dari lahir)</div>
<p><strong><br />
</strong></p>
<h4><strong>Wonosobo, Minggu pukul 12:00</strong></h4>
<p>Dalam perjalanan pulang menuju Jakarta, rombongan mampir sejenak di Wonosobo untuk menikmati makanan khas Wonosobo yaitu Mie Ongklok. Kebetulan kali itu, Kios Mie Ongklok Pak Muhadi yang mendapatkan durian runtuh. Mie Ongklok ini seperti Mie Koclok Cirebon, tapi disajikan dengan bumbu kacang. Paduannya adalah sate sapi, yang dimasak dengan cara didendeng mirip-mirip seperti Sate Kalong Cirebon. Rasanya? Jangan ditanya. Bikin kangen!</p>
<div id="attachment_605"><a href="http://backpackstory.files.wordpress.com/2012/05/wonosobo-20120513-00897.jpg"><img title="Mie Ongklok Pak Muhadi" src="http://backpackstory.files.wordpress.com/2012/05/wonosobo-20120513-00897.jpg?w=248&amp;h=331" alt="" width="248" height="331" /></a></div>
<div></div>
<div>Mie Ongklok, makanan khas Wonosobo</div>
<div></div>
<div></div>
<div id="attachment_604"><a href="http://backpackstory.files.wordpress.com/2012/05/wonosobo-20120513-00896.jpg"><img title="Mie Ongklok dan Sate Sapi" src="http://backpackstory.files.wordpress.com/2012/05/wonosobo-20120513-00896.jpg?w=368&amp;h=277" alt="" width="368" height="277" /></a></div>
<div></div>
<div>Penampakan Mie Ongklok</div>
<div></div>
<div></div>
<p>Karena lalu lintas yang padat, kami baru tiba di Jakarta pada tengah malam. Perjalanan ke barat sendiri berlangsung menyenangkan, banyak pengalaman baru bersama teman-teman baru. Untuk biaya, <em>trip</em> yang berlangsung dari tanggal 11-13 Mei 2012 dan difasilitasi oleh <a href="http://twitter.com/Tukang_Jalan" target="_blank">@Tukang_Jalan</a> ini biayanya sekitar lima ratus ribuan <em>all in</em> per kepala atas. Info lengkap mengenai trip mereka, bisa dicek di <a href="http://www.tukangjalan.com/" target="_blank">www.tukangjalan.com</a></p>
<p>(Sebagai bacaan tambahan, <a href="http://twitter.com/FaraFaya" target="_blank">@FaraFaya</a> juga menulis mengenai #DiengTrip ini di <a href="http://farafaya.tumblr.com/post/23160807047/dieng-trip-may-12-13-2012" target="_blank">sini</a>)</p>
<p>***</p>
<h1><strong><br />
<span style="text-decoration: underline;">Dieng, Minggu pukul 01:00</span></strong></h1>
<p>Karena tak bisa tidur lagi, saya pun berbincang dengan pemandu kami mengenai peristiwa mistis yang terjadi di Dieng dan dia bercerita bahwa memang sudah banyak hal-hal aneh yang terjadi di sini.</p>
<p>“Namanya juga tempat <em>wingit*</em>, ga boleh bersikap sembarangan di sini.”</p>
<p>Saat itu tiba-tiba Bombom terbangun, sambil merintih kesakitan.</p>
<p>“Aduuuhhh.. Sakiit.. Kaki gue kram.”</p>
<p>Pemandu kami langsung mengambil posisi untuk memijat dan mengurut kaki Bombom.</p>
<p>“Tenang Bom, rileks aja kayak di tripleks.” ucapnya.</p>
<p>Saya yang penasaran, menanyai Bombom yang sudah sadar.</p>
<p>“Tadi belum sembuh Bom? Yang diurut sama Mr.X?”</p>
<p>Bombom cuma bisa bengong.</p>
<p>“Tadi loh, yang elu teriak kesakitan pas jam 12 malam.”</p>
<p>“Hah, apaan ya?”</p>
<p>“Lah, jadi lu ga inget apa-apa tentang kejadian tadi?”</p>
<p>“Eng…ga.”</p>
<p>Entah kejadian apa yang menimpa Bombom waktu itu, hanya Tuhan yang tahu. Wallahualam bi shawab.</p>
<p>*) wingit: keramat; tempat yang dikeramatkan seperti kuburan, tempat ibadah, atau pohon besar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ditulis Oleh: <a href="http://backpackstory.wordpress.com/2012/06/03/dieng-keindahan-yang-berselimut-mistis/">Ariev Rahman</a></p>
<p>Diposkan Oleh ALKA</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tukangjalan.com/cerita-dieng/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Goa Buniayu, Surga Indah diperut Bumi (Trip 7-8 Desember)</title>
		<link>http://www.tukangjalan.com/goa-buniayu-surga-indah-diperut-bumi-trip-7-8-desember/</link>
		<comments>http://www.tukangjalan.com/goa-buniayu-surga-indah-diperut-bumi-trip-7-8-desember/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Nov 2012 05:08:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webadmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Holiday]]></category>
		<category><![CDATA[Review Stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tukangjalan.com/?p=13128</guid>
		<description><![CDATA[
Pernahkah anda merasakan kegelapan..??
Jawabannya, “Tentu Pernah”. Ketika sedang mati lampu di rumah, mungkin kita akan merasakan yang namanya gelap.
Namun akan berbeda jika pertanyaannya diganti
“Pernahkah anda merasakan kegelapan abadi..???
kegelapan yang 3 kali lipat gelapnya dibandingkan ketika mati lampu di rumah kita..?? kegelapan yang ketika kita menaruh ... ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.tukangjalan.com/wp-content/uploads/2012/12/IMG_3875.jpg"><img class="aligncenter size-large wp-image-13131" title="IMG_3875" src="http://www.tukangjalan.com/wp-content/uploads/2012/12/IMG_3875-1024x768.jpg" alt="" width="600" height="450" /></a></p>
<p>Pernahkah anda merasakan kegelapan..??<br />
Jawabannya, “Tentu Pernah”. Ketika sedang mati lampu di rumah, mungkin kita akan merasakan yang namanya gelap.<br />
Namun akan berbeda jika pertanyaannya diganti<br />
“Pernahkah anda merasakan kegelapan abadi..???<br />
kegelapan yang 3 kali lipat gelapnya dibandingkan ketika mati lampu di rumah kita..?? kegelapan yang ketika kita menaruh ujung jari kita di depan mata, tidak akan sedikitpun terlihat bayangannya.</p>
<p>Itulah salah satu pengalaman yang saya rasakan ketika caving di goa buniayu kemarin. Ada salah satu acara yang masuk dalam schedule, yaitu merasakan “Kegelapan Abadi” didalama goa.<br />
Pada saat itu, seluruh cahaya yang berasal dari senter kepala ataupun dari puntung rokok dimatikan. Dan selama kurang lebih 5 menit kami merasakan gelap yang benar-benar gelap. Gelap yang memang 3 kali pekatnya dibandingkan gelap ketika berada dipermukaan bumi. Pada saat itu, hening dan gelap benar-benar menghipnotis kami. Tak ada sedikitpun suara yang keluar dari mulut kami. Hanya nafas tersengal-sengal akibat perjalanan sebelumnya yang terdengar silih berganti.</p>
<p>Seru sekali perjalanan saya kali ini. Perjalanan menuju sukabumi untuk menelusuri goa buniayu dan menikmati air terjun bibijilan. Kami ber-26 orang start dari Jakarta pukul setengah sepuluh malam pada hari jum’at dan sampai di lokasi penginapan sekitar pukul 2 pagi. Udara dingin dan kabut yang turun menyambut kami ketika sampai dipenginapan. Tak pelak, wedang jahe hangat yang telah disiapkan sang empunya rumah segera kami serbu. Nikmat sekali malam ini, udara dingin yang diselingi kabut ditambah dengan wedang jahe hangat semakin membuat asik perbincangan kami malam ini. Namun, malam ini harus segera kami akhiri dengan istirahat, bagaimanapun stamina kami sangat dibutuhkan esok pagi untuk menaklukkan kedalaman goa buniayu.</p>
<p>Second Day, Sabtu 8 Desember</p>
<p>Pukul setengah 6 Pagi kami telah dibangunkan oleh Pemandu Lokal kami di goa buniayu. Menurut beliau, kami harus cepat mencuri waktu. Karena pada bulan ini musim hujan sering turun setelah jam 12 siang. Jadi diusahakan agar kami lebih awal menuju goa agar perjalanan kami lancar dan dapat menikmati keindahan di dalam goa lebih lama.</p>
<p>Setelah sarapan dan mengganti pakaian, kami segera menuju lokasi Goa. Sekitar 5 menit perjalanan yang dibutuhkan dari penginapan menuju goa buniayu. Awal perjalanan kami menelusuri goa adalah dengan menuruni goa ini yang dalamnya kurang lebih 30 meter.</p>
<p>AMAZINGGGG…!!!!<br />
Itulah yang ada dalam fikiran saya. Benar-benar luar biasa. Begitu sampai di bawah, stalagtit dan stalagmit indah benar-benar memanjakan mata. Sungguh beruntung masyarakat sekitar, karena diberikan daerah dengan sejuta keindahan. Tak cukup disitu, perjalanan kami menelusuri goa semakin membuat kami terkagum-kagum. Sungai bawah tanah yang mengalir disepanjang goa semakin menambah keindahan goa ini. Goa buniayu ini sendiri, pernah menjadi goa terbaik di asia tenggara. Namun, akibat ketiadaan dana ketika akan melakukan verifikasi ulang, membuat goa buniayu harus tersingkir dari daftar goa terbaik (menurut curhat pemandu lokal).</p>
<p><a href="http://www.tukangjalan.com/wp-content/uploads/2012/12/IMG_3956.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-13132" title="IMG_3956" src="http://www.tukangjalan.com/wp-content/uploads/2012/12/IMG_3956-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Hampir 3 jam waktu yang kami butuhkan untuk menyusuri goa ini. Medan yang cukup ekstrim menunggu kami di akhir-akhir perjalanan. Lumpur yang memenuhi jalan memang sedikit menyulitkan kami. Namun, semangat pantang menyerah kami berhasil menaklukkan goa buniayu ini dengan peringkat “lulus dengan nilai terbaik” ..^_^</p>
<p>Yah, pada akhir perjalanan kami memang di “wisuda” oleh pemandu kami. “Wisuda” yang menyatakan kami telah lulus untuk menaklukkan goa buniayu, goa dengan berjuta keindahan.</p>
<p><a href="http://www.tukangjalan.com/wp-content/uploads/2012/12/IMG_3980.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-13133" title="IMG_3980" src="http://www.tukangjalan.com/wp-content/uploads/2012/12/IMG_3980-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Tak sampai disitu. setelah berlumpur-lumpur ria, perjalanan kami lanjutkan untuk menikmati keindahan air terjun bibijilan sekaligus membersihkan diri. Sepanjang perjalanan kami dari goa buniayu ke curug bibijilan, terbentang luas hutan pinus dan juga sawah serta kebun para penduduk lokal. Benar-benar perjalanan yang menyenangkan. Hilang semua lelah yang kami rasakan, tergantikan oleh keindahan yang semakin memupuk semangat kami untuk cepat-cepat sampai ke curug bibijilan.</p>
<p>Dicurug bibijilan ini, tak kalah asiknya dengan keadaan di goa buniayu. Di curug ini kami membersihkan sisa-sisa lumpur yang menempel dipakaian sekaligus merasakan sejuknya air di curug ini.</p>
<p><a href="http://www.tukangjalan.com/wp-content/uploads/2012/12/IMG_3997.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-13134" title="IMG_3997" src="http://www.tukangjalan.com/wp-content/uploads/2012/12/IMG_3997-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Selesai sudah perjalanan saya kali ini. Dan, akhir dari perjalanan ini ditutup dengan makan siang yang menurut saya “sangat nikmat”. Sayur lodeh, tempe goreng, ayam goreng, peyek ikan asin, serta sambal yang disediakan oleh pemilik penginapan memang benar-benar nikmat. Hidangan yang menurut saya semakin menambah daftar “Rindu” untuk kembali dan berpetualang disini.</p>
<p>Terakhir, sedikit oleh-oleh puisi yang terinspirasi dari petualangan kali ini…</p>
<p><strong>&#8221; Kegelapan Abadi &#8220;</strong></p>
<p>Ini bukanlah kematian kawan&#8230;<br />
Ini adalah pekat yang membekap&#8230;</p>
<p>Ini bukanlah kematian kawan&#8230;<br />
Ini hanyalah kesunyian yg membisu&#8230;.</p>
<p>Ini bukanlah kematian kawan&#8230;<br />
Hanyalah perbandingannya saja&#8230;<br />
Dimana nantipun kita akan merasakan hal.yang sama&#8230;</p>
<p>Ya,kau dan aku,kita&#8230;.<br />
Kita akan merasakan hal yg sama nantinya&#8230;<br />
Dimana kegelapan abadi akan menyelimuti,nanti..<br />
Dimana kesunyian akan menjadi sahabat sejati,nanti&#8230;</p>
<p>Ya,nanti&#8230;.<br />
Ketika kau dan aku berpisah,kita&#8230;<br />
Ketika kau dan aku takkan lagi bertemu,kita&#8230;<br />
Semuanya akan sama&#8230;<br />
Tak ada yg berbeda&#8230;<br />
Kau dan aku&#8230;.<br />
Akan berteman dengan gelap&#8230;abadi&#8230;</p>
<p>(Goa Buniayu, 8 Desember 2012)</p>
<p>Ditulis oleh ALKA, Foto-foto koleksi Pribadi</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tukangjalan.com/goa-buniayu-surga-indah-diperut-bumi-trip-7-8-desember/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jalan-Jalan ke Karimun Jawa (16-18 Nopember 2012)</title>
		<link>http://www.tukangjalan.com/jalan-jalan-ke-karimun-jawa-16-18-nopember-2012/</link>
		<comments>http://www.tukangjalan.com/jalan-jalan-ke-karimun-jawa-16-18-nopember-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Nov 2012 10:53:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webadmin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review Stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tukangjalan.com/?p=13059</guid>
		<description><![CDATA[
Kamis, 16 Nopember 2012
Hari ini rencananya gw dan temen-temen bakalan ngebolang ke Karimun Jawa.
Bermodalkan cuti yang udah ditangan, plus duit hasil dari ngebelah celengan, akhirnya rencana yang udah lama tertunda, bakalan bisa dilaksanain.
Yups, rencananya hari ini gw dan teman-teman bakalan ngebuktiin semua yang udah petualang ... ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://www.tukangjalan.com/wp-content/uploads/2012/11/karjaw-muhammad-islam-alwi.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-13060" title="Karjaw (From Muhammad Islam Alwi)" src="http://www.tukangjalan.com/wp-content/uploads/2012/11/331807_4844252754513_512551016_o.jpg" alt="" width="562" height="374" /></a></p>
<p style="text-align: left;">Kamis, 16 Nopember 2012</p>
<p>Hari ini rencananya gw dan temen-temen bakalan ngebolang ke Karimun Jawa.<br />
Bermodalkan cuti yang udah ditangan, plus duit hasil dari ngebelah celengan, akhirnya rencana yang udah lama tertunda, bakalan bisa dilaksanain.<br />
Yups, rencananya hari ini gw dan teman-teman bakalan ngebuktiin semua yang udah petualang laennya tulis tentang Karimun Jawa. Penasaran banget ama nih pulau. Hampir 80% artikel yang di tulis di internet isinya adalah keindahan pulau ini.<br />
Dan satu lagi, buat yang suka ngebolang tapi gak punya temen yang bisa diajakin, gw saranin buat ikutan trip-trip yang dilaksanain ama Travel Agent. Selain biayanya lebih murah dibandingin kita jalan sendiri, dengan kita ikutan Travel Agent maka kita bakalan nambah banyak temen yang sebelumnya kagak pernah kenal sama sekali. Gw udah buktiin, kemaren-kemaren gw sempet maen ke pangandaran sendirian nguji nyali..:p<br />
Selain tempat yang dituju cuman bisa pantai pasir putih, budget yang gw keluarin ternyata ngelebihin ama biaya yang seumpamanya gw ikutan trip Travel Agent. So, gw rugi berkali-kali lipat. Mulai dari tujuannya yang cuman dikit, biayanya juga ternyata lebih mahal. Sory ye, bukan gw nyoba ngiklan, tapi ini emang bener-bener kenyataan yang udah gw jalanin. Lagian, gw promosi jugak kagak dibayar ini ama OM TJ..(ehehehehehehe).</p>
<p>Balik lagi ke cerita ngebolang gw. Jam 8 pagi hari kamis tepatnya tanggal 15 Nopember 2012, gw dan peserta yang laen udah ngumpul di Terminal Bus lebak bulus. Titik kumpul yang menurut gw gak terlalu jauh dari tempat gw tinggal.<br />
Disini kira-kira udah ada 23 orang peserta trip lainnya dari Tukang Jalan. Setelah berha-ha-hi-hi ria sembari berkenalan (sapa tau ada yang nyangkut..:p), perjalanan kamipun dimulai dengan langkah awal menuju JEPARA. Huffttt….pantura macrettt sodara-sodara… hampir 15 jam waktu yang dibutuhkan pada siang hari dari lebak bulus menuju jepara. Kami berangkat dari lebak bulus sekitar jam 09:00 dan sampai di Jepara pukul 00:15 tengah malam.<br />
Sampai di jepara, sembari menunggu pagi kami habiskan buat ngobrol ngalor-ngidul. Sedangkan peserta trip yang wanita sudah menuju ke alam mimpi semua..^_^</p>
<p>Pagi harinya,jum’at 16 Nopember 2012, kami menyebrang ke Pulau Karimun jawa menggunakan Bahari Express. Satu-satunya kapal cepat yang waktu tempuhnya hanya 2-2,5 jam dari pelabuhan Jepara ke Pulau Karimun jawa. Kami berangkat jam 08:00 pagi dan tiba di karimun jawa sekitar jam 10:30 waktu setempat. Belum lagi kami mengeksplor pulau dengan bersnorkling ria, keindahan karimun jawa telah tampak ketika kami sampai di pelabuhan. Bagaimana tidak, disana-sini terlihat ikan berwarna-warni dengan bebasnya berkeliaran diantara perahu nelayan yang ditambatkan. Selain itu, airnya yang biru sangat memanjakan mata untuk melihat “isi” laut.</p>
<p>Setelah beribadah dan istirahat sejenak, sekitar pukul 13:30 kami lanjutkan perjalanan menuju titik snorkeling dengan perahu nelayan yang telah disediakan. Tujuan ngebolang hari ini ada pulau gosong, pulau cemara plus tanjung gelam.<br />
Ajiibbbb bangettt dah..!!!!<br />
Dijamin bakalan ngemanjain mata buat yang belum pernah snorkeling. Bahkan gw yang udah sering snorkeling masih aja dibuat takjub ama keindahan bawah laut Karimun Jawa.<br />
Mulai dari airnya yang jernih dan biru, ikannya yang berwarna-warni dengan bebas berkeliaran diantara terumbu karang, ataupun tentang keramah-tamahan penduduk lokal yang memang tidak dibuat-buat.</p>
<p>Dan, penutupan ngebolang hari ini dilalui dengan bernarsis ria dipulau Tanjung gelam. Pulau yang memiliki pantai pasir putih yang tidak terlalu luas, namun pasirnya yang halus cukup buat memanjakan kaki. Selain itu, buat mengisi energy yang terkuras buat bersnorkling di pulau ini kita bisa nemuin pedagang makanan. Jadilah persinggahan terakhir hari ini kami habiskan buat charger energy dan bermain pasir sepuasnya.<br />
Cukup sudah petualangan kami hari ini. Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Saatnya untuk kembali ke penginapan dan berburu tenggelamnya surya di dermaga.<br />
Satu hal yang kami tunggu, menikmati senja denga jingga yang keemasan serta  menikmati belaian angin pantai dipergantian hari.Walau masih belum terpuaskan hari ini, setidaknya sudah cukup buat ngebuktiin bahwa semua cerita yang ada diinternet benar adanya.<br />
Dan, perjalanan dengan kapal nelayan menuju pulau tempat kami menginap, lebih banyak di isi oleh deburan ombak yang menerpa perahu kami, sesekali di iringi desau angin yang membuat hening semakin syahdu.</p>
<p>Malam harinya, kegiatan yang kami lakuin adalah berburu kuliner di alun-alun Karimun Jawa. Di alun-alun yang tidak terlalu luas ini, kita bisa nemuin makanan-makanan ringan khas pengganjal perut dimalam hari. Sembari berkumpul dan menikmati hidangan, obrolan ringan dan canda teman-teman yang baru dikenal  cukup menghangatkan malam yang semakin beranjak.</p>
<p><a href="http://www.tukangjalan.com/wp-content/uploads/2012/11/177288_4844291435480_1087309907_o.jpg"><img class="size-large wp-image-13069 aligncenter" title="177288_4844291435480_1087309907_o" src="http://www.tukangjalan.com/wp-content/uploads/2012/11/177288_4844291435480_1087309907_o-1024x682.jpg" alt="" width="600" height="399" /></a></p>
<p>Days 2<br />
Hari ke-2 di karimun jawa, rencananya bakalan full berada di lautan. Jadi semua bekal untuk makan siang dan baju kering harus disiapkan sebelumnya. Seusai sarapan pagi, perjalanan kamipun dimulai menuju titik snorkeling pertama. Perjalanan menuju titik snorkeling ini sekitar 45-60 menit. Yang artinya, waktu untuk bernarsis ria di atas kapal bakalan sedikit panjang.<br />
Kami sedikit beruntung, karena cuaca di minggu ke-2 dibulan November ini masih baik-baik saja. Hujan yang kami takutkan turun dan gelombang pasang yang memang saatnya hadir dibulan ini tidak muncul. Bahkan langit yang menenggelamkan cahaya matahari memberikan keuntungan buat perjalanan hari ini, karena kami tidak perlu berpanas-panas ria dikapal.</p>
<p>Di titik snorkeling pertama, mata kita masih dimanjakan dengan indahnya terumbu karang yang bermacam-macam bentuknya. Ada yang berbentuk kipas, ada yang berbentuk ranting pohon dengan warna biru, ataupun bentuk-bentuk lain yang tak kalah uniknya.<br />
Tapi jangan lupa buat yang snorkeling, hati-hati menginjak terumbu karang. Jangan sampai terumbu karang yang memang rentan patah terinjak-injak waktu snorkeling. Seandainya kita tidak ikut berpartisipasi menjaga setiap hari dari orang-orang yang nakal, setidaknya untuk hari ini kita tidak ikut merusak kehidupan indah dibawah laut sana.</p>
<p>Okeh… selesai bersnorkling ria, sekarang udah saatnya buat ngisi perut yang mulai berontak. Dan, tempat makan siang kami hari ini adalah Pulau Cemara Kecil. Pulau yang tak berpenghuni, dan memang tempat yang cocok untuk bakar ikan sekaligus makan siang. Kru ABK Kapal yang memang sudah menyiapkan segalanya, segera mengolah semua bahan yang memang telah disediakan sejak pagi.<br />
Nikmat sekali makan siang hari ini. Makan siang dengan ikan segar Bakar ditambah kecap pedas manis dan minuman kelapa muda. Ditambah lagi dengan makan bersama yang disertai canda teman-teman baru yang sudah mulai terasa keakrabannya.</p>
<p>Tepat pukul 2 siang, sehabis makan siang dan beristirahat sejenak, perjalanan kami teruskan menuju titik snorkeling kedua, yaitu Pulau Cemara Besar. Energy yang telah kembali dari makan siang dan istirahat sejenak, menambah semangat kami untuk terjun ke laut kembali. 1 jam lebih kami habiskan untuk snorkeling di pulau ini. Tak terlalu lama, dikarenakan arus bawah laut yang lumayan besar membuat kami harus mengeluarkan tenaga ekstra agar tak terbawa arus.<br />
Setelah selesai dan terpuaskan snorkeling, perjalanan kami lanjutkan menuju “Penangkaran Hiu”. Dan, selesai melihat penangkaran hiu, waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, yang berarti sudah saatnya kami untuk kembali pulang dan menikmati matahari tenggelam di dermaga. Sungguh eksotis, perpaduan antara langit yang temaram serta matahari yang mulai jingga.<br />
Sesekali ditimpali celoteh anak-anak kecil yang bermain di sekitar dermaga, semakin membuat kami tenggelam dalam sore yang syahdu ini.</p>
<p>Rasa lelah kami terbayar lunas dengan keindahan yang disajikan Pulau Karimun Jawa. Dan berharap banyak, suatu saat ketika kami dan anak cucu kembali kesini, keindahan laut dan isinya masih tetap terjaga.<a href="http://www.tukangjalan.com/wp-content/uploads/2012/11/665979_4844289995444_1345053447_o.jpg"><img class="wp-image-13067 aligncenter" title="665979_4844289995444_1345053447_o" src="http://www.tukangjalan.com/wp-content/uploads/2012/11/665979_4844289995444_1345053447_o.jpg" alt="" width="576" height="384" /></a></p>
<p>Dan&#8230;Ini oleh-oleh puisi gw dari karimun jawa..Moga aja pada suka bacanya..^_^</p>
<p>Selamat Sore Senja…<br />
Terimakasih kau hadir bersama jingga…<br />
Obati lelah serta dahaga,..<br />
Juga fikir yang dirundung duka nestapa…<br />
Terimakasih Senja…<br />
Denganmu kami mengerti malam…<br />
Olehmu kami mengerti keindahan…<br />
Dekap sang malam dengan kesyahduan…<br />
Rengkuh sang gelap dengan keanggunan…<br />
Terimakasih Senja…<br />
Berharap kau datang lagi esok….<br />
Jangan pernah lelah hibur kami yang kelelahan..<br />
Jangan letih iringi langkah kami yang mulai perih..<br />
Tetaplah disana senja….<br />
Tetaplah hadir bersama jingga…<br />
Aku akan menantimu….Senja</p>
<p>(Ditulis Oleh ALKA, Foto-foto By <a href="https://www.facebook.com/alwifals">Muhammad Islam Alwi</a> &#8211; Peserta Trip)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tukangjalan.com/jalan-jalan-ke-karimun-jawa-16-18-nopember-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pulau Pari ~ Negeri Bidadari</title>
		<link>http://www.tukangjalan.com/pulau-pari-negeri-bidadari/</link>
		<comments>http://www.tukangjalan.com/pulau-pari-negeri-bidadari/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Nov 2012 04:08:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Holiday]]></category>
		<category><![CDATA[Schedule Trip]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://localhost/tukangjalan/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[Jam masih menunjukkan pukul 05:30 hari ini, sabtu 8 September 2012.
Masih hitungan pagi, namun hiruk pikuk suara kapal nelayan yang sandar dan menurunkan ikan, sesekali disertai oleh teriakan-teriakan ABK yang memberi petunjuk kepada sang kapten membuat pagi ini serasa berbeda bagi kami yang sehari-harinya selalu ... ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jam masih menunjukkan pukul 05:30 hari ini, sabtu 8 September 2012.<br />
Masih hitungan pagi, namun hiruk pikuk suara kapal nelayan yang sandar dan menurunkan ikan, sesekali disertai oleh teriakan-teriakan ABK yang memberi petunjuk kepada sang kapten membuat pagi ini serasa berbeda bagi kami yang sehari-harinya selalu disibukkan dengan aktifitas menahan amarah akibat macetnya ibukota.<br />
Hari ini dipelabuhan muara angke, kami para pejalan telah siap untuk mengeksplor pulau Pari, yang merupakan bagian dari kepulauan seribu.<br />
cukup pagi memang, namun semangat kami untuk mencapai tujuan tak terkalahkan oleh dingin yang tersisa tadi malam. keindahan yang diceritakan oleh mereka para pejalan yang telah menjejakkan kaki di pulau pari, cukuplah menjadi penyemangat kami untuk merasakan nikmatnya berlibur disana.</p>
<p>Tak lama kami menunggu kapal yang akan kami naiki untuk berlayar. sekitar pukul 6 pagi, kapal penumpang yang mengangkut kami telah berlayar membelah gelombang dan menyajikan pemandangan yang jauh berbeda dengan yang kami liat dikeseharian. Dibutuhkan waktu kurang lebih 3 jam untuk mencapai pulau Pari. Cukup lama, namun keindahan yang membelai mata ketika berlayar akan membuat kita merasakan waktu seakan cepat berlalu.</p>
<p>Sesampainya di pula Pari, rombongan peserta trip &#8220;Tukang Jalan&#8221; segera menuju home stay yang tak jauh dari bibir pantai. Tak butuh waktu lama untuk mengembalikan stamina yang hilang diperjalanan. Karena rasa penasaran kami ternyata cukup kuat untuk mengalahkan letih yang ada. Segera, dengan mengendarai sepeda yang memang telah dipersiapkan, eksplor pulau pari pun dimulai dengan bersepeda menuju bibir pantai barat. Disini, selain bintang laut yang melimpah ruah, kamipun disajikan pemandangan yang menyejukkan mata. Laut yang biru sesekali beriak tertiup angin, kapal nelayan yang sesekali melintas, dan heningnya suasana membuat kami tak henti-hentinya bersyukur atas karunia-NYA.</p>
<p>Puas bernarsis ria dan berkeliling pulau pari, it&#8217;s time to snorkling..^_^<br />
Waktu yang kami tunggu telah tiba. sudah tak sabar rasanya menceburkan diri kelaut dan melihat &#8220;isi laut&#8221; yang selama ini hanya kami lihat dari internet.</p>
<p><a href="http://www.tukangjalan.com/wp-content/uploads/2012/11/web-3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-13653" title="web-3" src="http://www.tukangjalan.com/wp-content/uploads/2012/11/web-3-300x168.jpg" alt="" width="300" height="168" /></a></p>
<p>Dengan menggunakan kapal nelayan yang termasuk dalam paket trip, kami pun kembali membelah gelombang menuju titik snorkling. Ada 3 titik yang akan kami tuju untuk melihat dan menikmati keindahan bawah laut. Sungguh menakjubkan melihat ikan warna-warni  bermunculan dari balik terumbu karang. Sungguh bebas mereka berkejaran diantara birunya laut.</p>
<p><a href="http://www.tukangjalan.com/wp-content/uploads/2012/11/web.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-13652" title="web" src="http://www.tukangjalan.com/wp-content/uploads/2012/11/web-300x172.jpg" alt="" width="300" height="172" /></a></p>
<p>Waktu telah menunjukkan pukul 5 sore ketika kami meninggalkan titik terakhir snorkling. perjalanan kamipun dilanjutkan menuju tepian untuk melihat indahnya matahari tenggelam sore ini. Sekali lagi, hening dan syahdu yang diciptakan pulau Pari sore ini telah menghipnotis kami semua. dan, penghujung hari kami di pulau Pari ditutup dengan barbeque ala pantai, dengan membakar ikan di pinggir dermaga sembari menikmati hembusan angin laut yang sesekali membelai kami dengan manja. Cukup sudah hari ini kami lewati, ternyata benar kata para pejalan yang telah menginjakkan kaki disini. Sangat layak jika mereka menyebut pulau Pari sebagai Pulaunya para bidadari bermukim. Tak hanya hening dan syahdu, banyak sekali keindahan yang kami dapatkan dari pulau ini.</p>
<p><a href="http://www.tukangjalan.com/wp-content/uploads/2012/11/538618_254475344674006_2085136534_n1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-13651" title="538618_254475344674006_2085136534_n" src="http://www.tukangjalan.com/wp-content/uploads/2012/11/538618_254475344674006_2085136534_n1-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a></p>
<p>Pagi kedua perjalanan dan pagi terakhir di Pulau pari, kami awali dengan menikmati Pantai Perawan sembari menunggu matahari yang malu-malu muncul di balik awan. Sepanjang mata memandang, hamparan pasir putih dan eloknya jingga menemani kami pagi ini. Setelah puas menikmati terbitnya matahari, acara kami lanjutkan dengan menanam pohon bakau yang juga sudah termasuk dalam paket trip kami. Bagaimanpun, tak elok rasanya jika keindahan yang kami dapat tak diselingi dengan perbuatan nyata untuk mengungkapkan terimakasih ke Pulau yang telah memanjakan kami. Semoga nanti ketika anak cucu kami mengeksplor pulau ini, keindahannya masih seperti hari ini, bahkan bisa lebih lagi. Terimakasih pulau Pari, atas indah yang telah kau beri kepada kami para pejalan.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tukangjalan.com/pulau-pari-negeri-bidadari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jalan-jalan ke karimun jawa</title>
		<link>http://www.tukangjalan.com/jalan-jalan-ke-karimun-jawap/</link>
		<comments>http://www.tukangjalan.com/jalan-jalan-ke-karimun-jawap/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Sep 2012 04:00:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Holiday]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tukangjalan.com/?p=2690</guid>
		<description><![CDATA[Akhirnya kami sampai juga di Karimun Jawa, setelah diskusi panjang via chatting dan email ditambah menyiapkan sajen berbagai perbekalan lainnya. Berhubung enggak setiap hari ada kapal yang berangkat ke Karimun Jawa, kami memutuskan untuk berangkat hari Sabtu via Pelabuhan Tanjung Mas-Semarang, dengan Kapal Cepat Kartini 1. Untungnya ... ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Akhirnya kami sampai juga di Karimun Jawa, setelah diskusi panjang via chatting dan email ditambah menyiapkan <del>sajen</del> berbagai perbekalan lainnya. Berhubung enggak setiap hari ada kapal yang berangkat ke Karimun Jawa, kami memutuskan untuk berangkat hari Sabtu via Pelabuhan Tanjung Mas-Semarang, dengan Kapal Cepat Kartini 1. Untungnya kami sudah pesan tiket sebelum berangkat, karena banyak orang yang tidak kebagian tiket sehingga terpaksa ditinggal di pelabuhan. Kepulauan Karimun Jawa bisa ditempuh selama 3-4 jam dengan kapal cepat (tergantung arus) dan 5-6 jam dari Pelabuhan Pantai Kartini di Jepara naik Kapal Ferri nya ASDP. Siap-siap antimo yak buat yang nggak tahan naik <del>kora-kora</del> kapal. <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1129645325g" alt=":)" /></p>
<p>Tepat jam 13.09 kami berlabuh di pelabuhan Karimun Jawa. Berhubung kami belum punya tempat menginap, kami harus cari-cari penginapan dulu. Kota Karimun ini enggak terlalu besar, bahkan Bayek berhasil menghafalkan denah kota ini dalam waktu kurang dari sehari semalam. Enggak seperti saya yang sampai mau meninggalkan kota aja masih nyaris kesasar. Anyway, kami menginap di Homestay Mulya Indah punya Keluarga Pak Mulyono. Enak tempatnya, bersih dan nyaman.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tukangjalan.com/jalan-jalan-ke-karimun-jawap/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berhanyut Ria di Green Canyon</title>
		<link>http://www.tukangjalan.com/berhanyut-ria-di-green-canyon/</link>
		<comments>http://www.tukangjalan.com/berhanyut-ria-di-green-canyon/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Oct 2010 05:27:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tukangjalan.com/?p=13635</guid>
		<description><![CDATA[Green Canyon ya, bukan Grand Canyon walo ngarep juga bisa ke sana suatu saat nanti hahaha.
Kemarin beberapa orang di TL twitter saya bingung, mau menghabiskan libur natal &#38; tahun baru di mana? ada yang menyebut Sawarna atau Green Canyon. Saya jadi teringat pengalaman saya body ... ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Green Canyon ya, bukan Grand Canyon walo ngarep juga bisa ke sana suatu saat nanti hahaha.</p>
<p>Kemarin beberapa orang di TL twitter saya bingung, mau menghabiskan libur natal &amp; tahun baru di mana? ada yang menyebut Sawarna atau Green Canyon. Saya jadi teringat pengalaman saya body rafting di tempat eksotis ini bareng <a href="http://twitter.com/tweesca" target="_blank">Triska</a> dan <a href="http://twitter.com/tukang_jalan" target="_blank">Tukang Jalan</a> beberapa waktu lalu.</p>
<p>Waktu itu seperti biasa, kita berkumpul di Semanggi hari Jumat jam 9 malam, kemudian berangkatlah kita menuju daerah Pangandaran. Berbekal Antimo, saya yang gak mabok darat cuma butuh tidur ini pulas banget di jalan dan tau tau udah sampe aja jam 6 pagian kalo ga salah. Kemudian bersiap siaplah kita dengan perlengkapan yang sudah disediakan. Pake helm, pelampung dan lain sebagainya. Kemudian kita naik pick up, nampaknya kita di bawa ke bagian agak atas daerah Sungai Cijulang ini.</p>
<p>Beberapa saat kemudian, berhadapanlah kita dengan arus deras Green Canyon ini, kalau musim kemarau, airnya berwarna hijau dan cantik. Kalau musim hujan mungkin jadinya agak kecoklatan.</p>
<p><img src="http://media.tumblr.com/tumblr_mewnb9uLPU1qaygi0.jpg" alt="image" align="middle" /></p>
<p>Kemudian mulai deh kita nyebur. Byurr…</p>
<p><img src="http://media.tumblr.com/tumblr_mewncdjKsf1qaygi0.jpg" alt="image" align="middle" /></p>
<p><img src="http://media.tumblr.com/tumblr_mewnacWSM51qaygi0.jpg" alt="image" align="middle" /></p>
<p>Airnya dingin menyegarkan! Kenapa dinamakan body rafting? Karena memang kita cuma istilahnya dilepas gitu, ngikutin arus sungai haha. Deg-degan sih, tapi pasrah aja lah sama alam dan juga sama arahan instruktur. But you know what? SAYA GA TAU KALO PASRAH SAMA ARUS BISA SEDEMIKIAN MENYENANGKAN HAHAHA.</p>
<p>Bener bener yang namanya ‘go with the flow’ ya gini ini. Badan diombang-ambingin arus. Sempet sih ada arus yang deras dan gak memungkinkan untuk kita hanyut di situ, instruktur meminta kita melipir dan kemudian sedikit trekking di bebatuan sisi sungai. Kemudian kita lanjut nyebur lagi, dan hanyut kembali.</p>
<p><img src="http://media.tumblr.com/tumblr_mewnjyCpIJ1qaygi0.jpg" alt="image" align="middle" /></p>
<p>Kalo dapet arus deras dan melewati bebatuan, emang kudu hati-hati. Kita diajarin posisi tegap agar badan tidak ‘terantuk’ batu. Lalu semacam main perosotan gitu, seru deh. Yah walaupun aku sempet biru biru juga di bagian pantat dan pinggang karena ‘pose’ tubuh yang salah dan nabrak nabrak batu :p</p>
<p>Namun gak semua arusnya deras, ada juga yang arusnya sangat tenang dan mendamaikan. Saya sampe bisa ketiduran, karena saat saya melihat ke atas, yang tampak adalah tebing, pepohonan dan awan. Sungguh sangat damai sekali rasanya melihat lukisan Tuhan ini <img src='http://www.tukangjalan.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><img src="http://media.tumblr.com/tumblr_mewnovznWi1qaygi0.jpg" alt="image" align="middle" /></p>
<p>Ada lah kita berhanyut-hanyut ria di Green Canyon ini selama 3 jam lebih. Tapi sangat amat ga kerasa. Oiya, buat yang berani, boleh juga nyoba lompat dari batu yang ketinggiannya 7m</p>
<p><img src="http://media.tumblr.com/tumblr_mewnssPibD1qaygi0.jpg" alt="image" align="middle" /></p>
<p>Setelahnya kita makan siang dan lanjut Explore ke Batu Hiu dan melihat sunset di Batu Karas.</p>
<p><img src="http://media.tumblr.com/tumblr_mewo55F63k1qaygi0.jpg" alt="image" align="middle" /></p>
<p><img src="http://media.tumblr.com/tumblr_mewog52drC1qaygi0.jpg" alt="image" align="middle" /></p>
<p><img src="http://media.tumblr.com/tumblr_mewo9612Dh1qaygi0.jpg" alt="image" align="middle" /></p>
<p>Gak hanya itu, keesokannya kita mengunjungi Penangkaran Penyu dan Cagar Alam Pangandaran, di sana ada banyak monyet gitu, kalo bisa jangan bawa barang-barang berharga. ^ ^</p>
<p><img src="http://media.tumblr.com/tumblr_mewobcFMZs1qaygi0.jpg" alt="image" align="middle" /></p>
<p>Itulah sedikit cerita saya. Buat yang mau liburan atau menghabiskan weekend di Green Canyon, silahkan banget loh nyobain Body Rafting yang cukup menantang untuk dijelajahi. <img src='http://www.tukangjalan.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Info perjalanan ini itunya cek  <a href="http://www.tukangjalan.com" target="_blank">www.tukangjalan.com</a> atau twitter <a href="http://twitter.com/tukang_jalan" target="_blank">@Tukang_Jalan</a></p>
<p>(Sumber foto: Mas Dwi dan pribadi)</p>
<p>Disadur Oleh ALKA, dari <a href="http://rahneputri.tumblr.com/post/37776011727/greencanyon">Website Rahne Putri</a></p>
<p> <a href="http://www.internet-access-provider.com/">casino online spielen</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tukangjalan.com/berhanyut-ria-di-green-canyon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
